Skala Perbedaan Semantik (Semantic Differential)

Oleh: M. Jainuri, M.Pd

 

Skala Perbedaan Semantik (Semantic Differential) dikembangkan oleh C.E Osgood, Suci dan Tannenbaum dengan maksud untuk mengukur pengertian suatu obyek atau konsep oleh seseorang. Responden diminta untuk menilai suatu obyek atau konsep, (misalnya: sekolah, guru, pelajaran dan sebagainya). Skala bipolar adalah skala yang berlawanan dan mempunyai tiga dimensi dasar sikap seseorang terhadap obyek atau konsep tersebut. Menurut Iskandar (2000:154) tiga dimensi yang dimaksud, yaitu:

  1. Potensi, yaitu kekuatan atau atraksi fisik suatu obyek.
  2. Evaluasi, yaitu hal-hal yang menguntungkan atau tidak menguntungkan suatu obyek.
  3. Aktivitas, yaitu tingkatan gerakan suatu obyek.

Sifat dari tiga dimensi tersebut, misalnya sebagai berikut ini.

post 1

Dalam penelitian, skala perbedaan semantik (Semantic Differential) dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana pandangan seseorang terhadap suatu obyek atau konsep apakah sama atau berbeda. Obyek atau konsep dapat menjangkau banyak masalah, seperti: masalah politik, pendidikan, sekolah seseorang dan sebagainya. Suatu contoh dari alat ukur yang digunakan untuk menilai sekolah menurut Kerlinger (Nazir, 2009:344) sebagai berikut.

post 2

Huruf dalam tanda kurung menyatakan: A (Aktivitas), E (Evaluasi) dan P (Potensi). Penempatan sifat bipolar tidak boleh monoton, dari baik ke buruk, tetapi kadangkala dibalik seperti ditandai oleh *. Hal ini dilakukan agar dapat menghindari tendensi bias dari responden.

 Contoh skala perbedaan semantik (semantic differensial) dari C.E. Osgood sebagai berikut.

post 3

Langkah-langkah dalam menyusun skala perbedaan semantik (semantic differensial) menurut Nazir (2009:345) sebagai berikut ini.

  1. Tentukan obyek atau konsep yang diukur.
  2. Pilih sifat bipolar yang relevan dengan masalah yang diteliti.
  3. Untuk mencari sifat bipolar yang sesuai dengan obyek atau konsep yang diinginkan, maka terlebih dahulu perlu dicari jawaban dari dua kelompok yang berbeda secara empiris.

Skor untuk seorang responden atau subyek adalah jumlah skor dari pasangan sifat bipolar yang digunakan

 

SEMOGA BERMANFAAT.

Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.

4 thoughts on “Skala Perbedaan Semantik (Semantic Differential)

  1. Hariani Talib

    - Edit

    Reply

    Mohon maaf kak, apakah kakak bisa menjelaskan perbedaan antara skala rating dengan semantic differential? terima kasih.

  2. Selamat mlm saya mau bertanya pak,kalau warna masuk kedalam katagori apa ya pak? Potensi, evaluasi atau aktifitas. Mohon penjelasan nya. Saya sedang menjalanin tugas akhir pak. Terimakasih.

  3. retno amalia

    - Edit

    Reply

    apa kelebihan dan kelemahan dari penskalaan semantik diferensial ini pak ? mohon dijelaskan ya pak. trimakasih

Add Comment