Skala Likert

Oleh:

M. Jainuri, M.Pd

 Skala Sikap

Para ahli sosiologi membedakan skala pengukuran menurut gejala sosial yang diukur, yaitu: (1).Skala pengukuran untuk mengukur perilaku susila dan kepribadian. Termasuk dalam tipe ini adalah: skala sikap, skala moral, tes02_skala-pengukuran karakter dan skala partisipasi sosial, (2).Skala pengukuran untuk mengukur berbagai aspek budaya dan lingkungan sosial. Termasuk dalam tipe ini adalah: skala mengukur status sosial ekonomi, lembaga-lembaga swadaya masyarakat (sosial), kemasyarakatan, kondisi rumah tangga, dan sebagainya.

Skala adalah alat untuk mengukur nilai, sikap, minat, perhatian yang disusun dalam bentuk pernyataan/ pertanyaan untuk diberikan penilaian oleh responden, dan hasilnya dalam bentuk rentangan nilai sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Sikap merupakan kesiapan atau kecenderungan seseorang untuk bertindak dalam menghadapi suatu obyek atau situasi tertentu (Djaali,2008:114). Komponen sikap menurut Mueller (1986) adalah: komponen afektif, yaitu perasaan tertentu (positif dan negatif) yang memperngaruhi penerimaan atau penolakkan terhadap obyek sikap, sehingga timbul rasa senang tidak senang, takut tidak takut. Komponen kognitif, yaitu: aspek intelektual yang berhubungan dengan belief, idea atau konsep terhadap obyek sikap. Komponen konasi/ behavioral, yaitu: kecenderungan individu untuk bertingkah laku tertentu terhadap obyek sikap. Dengan demikian skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap obyek tertentu. Hasilnya berupa kategori sikap, yaitu sikap mendukung (positif), menolak (negatif), dan netral.

Sikap dapat diukur dengan metode: (1) measurement by scales (pengukuran sikap dengan menggunakan skala, maka muncullah skala sikap, (2) measurement by rating, yaitu pengukuran sikap dengan meminta pendapat atau penilaian para ahli yang mengetahui sikap isndividu yang dituju, (3) indirect method, yaitu pengukuran sikap secara tidak langsung dengan melakukan pengamatan perubahan sikap/ pendapat subyek yang diamati.

Bentuk-bentuk skala sikap yang perlu diketahui dalam melakukan penelitian antara lain : Skala Likert, Skala Guttman, Skala Semantik diferensial, Rating Scale dan Skala Thurstone.

 Skala Likert (Likert Summated Rating)

 Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang suatu gejala, kejadian atau fenomena sosial dan pendidikan. Skala Likert dikembangkan oleh Rensist Likert seorang pendidik dan psikolog Amerika Serikat. Skala yang dikembangkan adalah skala untuk mengukur sikap masyarakat pada tahun 1932.

 Dalam Skala Likert, variabel penelitian dijabarkan menjadi subvariabel-subvariabel atau dimensi, kemudian dimensi dijabarkan lagi menjadi indikator-indikator. Selanjutnya, indikator dijabarkan menjadi deskriptor. Deskriptor dijabarkan lagi menjadi butir-butir pernyataan/ pertanyaan, tapi jika deskriptor tidak bisa dijabarkan lagi, maka deskriptor dapat dijadikan sebagai butir-butir instrumen berupa pernyataan/ pertanyaan.

 Skala Likert mulai dari serangkaian pernyataan/ pertanyaan yang masing-masing mengungkap sikap yang jelas baik atau kurang baik. Jawaban reponden dari setiap pernyataan/ pertanyaan memiliki gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif yang dapat diungkapkan dengan kata-kata. Kata-kata yang sering digunakan pada Skala Likert, sebagai berikut:

 01_post

Item-item Likert menyediakan respon dengan kategori berjenjang, biasanya banyak jenjang adalah lima. Setiap kategori respon kemudian diberi skor, untuk item positif adalah dimulai dari skor terbesar, selanjutnya diurutkan hingga terkecil. Untuk item negatif dilakukan hal sebaliknya. Berkaitan dengan kategori respon (positif dan negatif) Somantri (2006:40) berpendapat skala sikap Likert tidak mengijinkan adanya peryataan item netral, jadi pernyataan yang ada dalam skala Likert hanya dua: pernyataan positif dan negatif.

 Kelebihan skala Likert:

  1. Dalam menyusun skala, item-item yang tidak jelas korelasinya masih dapat dimasukkan di dalam skala.
  2. Lebih mudah membuatnya daripada skala yang lain.
  3. Mempunyai reliabilitas yang relatif tinggi.
  4. Dapat memperlihatkan item yang dinyatakan dalam responsi alternatif.
  5. Dapat memberikan keterangan yang lebih nyata tentang pendapat atau sikap responden.

 Kekurangan skala Likert:

  1. Hanya dapat mengurutkan individu dalam skala, tetapi tidak dapat membandingkan beberapa kali individu lebih baik dari individu lainnya.
  2. Kadang-kadang total skor dari individu tidak memberikan arti yang jelas, banyak pola responsi terhadap beberapa item akan memberikan skor yang sama.
  3. Validitas dari skala Likert masih memerlukan penelitian empirik.

 Langkah-langkah penyusunan skala Likert:

  1. Reduksi teori-teori terkini tentang variabel yang akan diteliti dan tentukan secara tegas sikap terhadap masalah yang akan diukur.
  2. Berdasarkan teori jabarkan variabel menjadi subvaribel-subvariabel/ dimensi yang menyusun sikap tersebut, baik secara kognitif, afektif dan konatif (kecenderungan perilaku).
  3. Jabarkan subvariabel-subvariabel/ dimensi menjadi indikator-indikator.
  4. Kembangkan indikator-indikator menjadi deskriptor-deskriptor.
  5. Deskriptor bisa dijabarkan menjadi butir/ item pernyataan/ pertanyaan, namun jika deskriptor tidak bisa lagi dikembangkan maka deskriptor bisa langsung dijadikan butir/ item pernyataan/ pertanyaan dalam angket/ kuesioner.
  6. Setiap butir/ item diberikan respon/ option yang sifatnya tertutup.
  7. Untuk setiap respon/ option, jawaban diberi skor berdasarkan kriteria positif dan negatif, skor terbesar diletakkan pada jawaban yang sangat positif dan disesuaikan secara berurut. Untuk negatif dilakukan sebaliknya, yaitu skor terkecil diletakkan pada jawaban yang sangat positif dan dituliskan secara berurut.
  8. Untuk mengetahui posisi respon setiap atau semua responden, tentukan skor maksimal dan skor minimal yang mungkin dicapai oleh responden. Kemudian, tentukan juga nilai median, nilai kuartil 1, dan kuartil 3. Selanjutnya, buat skala yang menggambarkan skor-skor tersebut, carilah batas-batas skor masing-masing kategori sikap. Buatlah tabel distribusi frekuensi sikap sesuai respon dari setiap responden.

Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.

Add Comment