Sirene

Cerpen: Jen Kelana

Soource: insetgalus.com
Soource: insetgalus.com

Perempuan setengah umur itu mematung di kursi malas, sambal matanya tak lepas memandang lalu lalang kendaraan yang melintas di depan rumahnya. Pandangannya kosong. Sebentar-sebentar tangannya meraba dada. Kadang ada kerut di dahinya menahan sesak yang menghimpitnya.

Sudah tiga kali ini ibu mengeluh dada kirinya sakit dalam sehari ini. Biasanya aku hanya mendengar keluhan ibu paling-paling hanya sekali dalam sehari. Namun, belakangan ini frekuensi keluhan ibu semakin meningkat. Kondisinya semakin hari semakin memprihatinkan. Aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Jika ibu mengeluh, aku hanya bias menyuruhnya segera minum obat. Ibu lebih memilih mengkonsumsi obat daripada harus diperiksa ke dokter. Suatu kali ketika keluhan ibu menjadi-jadi, aku menyarankan ibu untuk berobat saja ke dokter, tetapi ditolak dengan alasan tidak ada biaya. Aku bersikeras membawa ibu ke dokter, dengan bekal uang yang kupinjam dari sekolah tempatku mengajar sebagai guru honorer. Tapi ibu tetap menolak. Begitulah, setiap kali penyakit ibu kambuh. Aku jadi bingung sendiri.

Seperti ada yang mengganjal di dalam hatiku. Keluhan ibu menelusuri lorong-lorong kehidupan yang kotor dan berdebu, terdefinisi jelas pada raut wajahnya yang tampak begitu tua. Padahal usia ibu masih tergolong muda. Ketika ibu harus melepaskan masa remajanya karena dilamar ayahku, saat itu usia ibuku sekitar dua puluh satu tahun. Usia yang matang untuk sebuah perkawinan, hingga melahirkan aku. Ibu harus berjuang sendiri merawat dan membesarkanku tanpa bantuan dari ayah. Ayah sendiri meninggal dunia ketika aku baru berusia enam bulan dalam kandungan. Praktis dalam usiaku yang menginjak dua puluh tujuh ini tak pernah merasakan kasih saying seorang ayah. Barangkali hal inilah yang membentuk pribadiku yang pendiam dan selalu merasa rendah diri. Apalagi ayah tidak meninggalkan harta yang dapat untuk hidup layak. Dalam usahanya membesarkanku ibu berjualan kecil-kecilan. Ibu menyulap teras depan rumah papan peninggalan ayahku menjadi sebuah warung yang sederhana. Ibu menyediakan barang-barang kebutuhan rumah tangga untuk masyarakat di sekitar rumahku. Dari hasil warung inilah, ibu membiayai hidup dan sekolahku hingga ke perguruan tinggi. Ditambah dengan usahaku sendiri, berkat keyakinan dan kesungguhan serta atas kemurahan tuhan, aku sekarang meraih gelar sarjana kependidikan. Dan untuk mengaplikasikan ilmu yang kudapatkan, aku mengabdikan diri di sebuah SMK swasta di kota kecilku. Sebagai tenaga honorer, cukuplah gajiku untuk membantu meringankan ibu dalam membiayai hidup kami.

Pada usiaku sekarang ini, aku ingin membahagiakan ibu. Rasanya sudah terlalu banyak pengorbanan ibu untukku, dan aku tidak mau lagi membebani pikiran ibu serta hari tuanya dengan berpangku tangan saja. Pada prinsifku sekarang ini ibu harus banyak istirahat, mengisi hari tua dengan tanpa beban dan tidak harus lagi memikirkan biaya hidup kami. Biarkan aku yang memikirkannya.

Tekadku untuk membahagiakan ibu terasa begitu menyesakkan dada. Hingga akhir-akhir ini membebani pikiranku. Bagaimana tidak, menjaga kondisi kesehatan ibu saja aku nyaris tidak bias, bagaimana aku harus membahagiakan ibu? Sementara usahaku belum juga terlihat hasilnya. Apalagi belakangan ini kondisi kesehatan ibu menurun drastis. Ada perasaan giris dalam hati, setiap kali mendengar keluhan ibu. Trenyuh. Kadang tanpa sadar embun mengalir menetes di mataku.

Seperti sore ini. Ketika aku berpamitan, dengan senyum yang seperti dipaksakan ibu terus memandangku. Aku memeluk ibu. Begitulah, setiap aku pergi mengajar, ada yang terasa mengganjal di hatiku. Meninggalkan ibu sendiri dalam keadaan kurang sehat, rasanya membuat kecemasan yang tak berujung. Dan perasaan seperti itu kubawa hingga ke sekolah. Pada saat mengajarpun konsentrasiku tidak pada pelajarannya. Bayangan di rumahlah yang mendominasi pikiranku. Aku terlalu saying pada ibu. Hingga wajar saja bila aku merasa khawatir.

 

***

Rintik gerimis baru saja turun perlahan ketika bel bernyanyi mengabarkan kelelahan waktu. Kuberesi buku-buku pelajaran. Sembari berkemas aku memandang wajah-wajah siswaku yang sudah bersiap-siap pulang.

“Ingat, minggu depan kita ulangan. Bapak tidak mau hasilnya mengecewakan. Maka belajarlah di rumah. Sekarang boleh pulang!”

“Selamat sore, Pak!”

“Selama sore!”

Aku melangkah perlahan meninggalkan ruangan kelas. Para siswa berlomba-lomba keluar. Padahal di luar masih gerimis. Tidak begitu deras. Langit di ufuk barat sedikit kelam. Awan putih tipis menghalangi teja yang berusaha menyeruak pori-pori kecerahan sore.

Udara dingin disertai gerimis yang masih menyisakan desah ritmisnya membawa langkahku hingga di halte yang tidak begitu jauh dari sekolah. Sambal menunggu angkot, kubuang mataku di antara lalu lalang kendaraan yang melintas. Kawanan motor ojek tak jemu-jemu menawarkan jasanya kepadaku. Klakson roda duanya sedikit mengganggu keasyikanku menyimak lagu nostalgia dari took kaset “Jeka Collection” di seberang jalan. Kadang-kadang ada perasaan dongkol setiap kali klakson itu tiba-tiba mengejutkanku. Andaikan saja di sini ada larangan untuk tidak membunyikan klaksaon sembarangan, tentu aku tidak sedongkol ini. Dan yang jelas bias sedikit mengurangi polusi suara yang akhir-akhir ini diabaikan begitu saja. Seperti tukang-tukang ojek itu dengan leluasanya berkelakar bersama klakson-klakson mereka, yang tentu saja sangat mengganggu pendengaran. Pendengaranku misalnya. Barangkali tukang-tukang ojek itu jemu juga kepadaku, manakala mereka hanya mendapatkan gelengan kepalku sebagai jawaban atas tawaranya.

Hatiku gelisah. Kukerling jam di pergelangan tangan kananku. Jarum pendek telah menunjukkan angka 17.10. Ada kesal dalam hatiku. Biasanya tidak perlu menunggu lama dan tidak perlu bercumbu dengan halte yang menjemukan, angkot-angkot itu sudah menyapaku. Namun sore ini kendaran-kendaraan itu seperti dipingit. Di tengah benakku yang menggumpalkan sebongkah pertanyaan, tiba-tiba aku dikejutkan oleh raungan sirene yang dating dari arah jurusan yang hendak kutuju. Pertama yang terlihat adalah mobil dengan plat kepolisian, di belakangnya ada mobil bernomor polisi khusus. Aku ingat itu adalah mobil bapak gubernur. Kemudian menyusul di belakangnya mobil-mobil pejabat lainnya. Raungan sirena yang memekakkan telinga mengusik pengguna jalan lain. Semua menepi. Kendaraan-kendaraan yang sejak tadi lalu lalang terlihat seperti merangkak dan sekan-akan takut melihat iring-iringan kendaraan yang melintasi jalanan. Bagaimana tidak. Memang mobil-mobil berkelas yang dikendarai oleh pejabat-pejabat itu membuat minder gerombolan kendaraan kumuh, kusam dan penuh dempul itu. Setiap hari yang setia hilir mudik menawarkan jasanya pada orang-orang yang juga kumuh, kusam dan dekil itu. Angkot-angkot itu seperti terhipnotis, menganga dan takjub. Merasa rendah diri tentu, mengingat angkot-angkot itu adalah kendaraan-kendaran yang sudah ujur. Tidak sebanding dengan mobil-mobil pejabat itu yang serba mengkilat dan berkelas. Belum lagi sederetan merek yang membuatku melongo. Semua serba asing, aku tak mengenalnya sampai-sampai aku tak mampu mengejanya. Bagaimana tidak iri. Begitu kira-kira dengus angkot-angkot itu. Ah, aku tak bias menyalahkan sikap meraka. Andai saja aku bias mendengar ratapnya, aku akan berkata, “Sudahlah tidak perlu cemas. Kita ini ya akan terus begini. Jangan berharap yang muluk-muluklah. Terima saja sewajanya, yang penting semua tahu bahwa kita masih tetap setia dengan harga diri dan nurani. Meski jelek kita masih bermanfaat kok bagi orang lain. Sama sepertiku. Di saat orang-orang tidak lagi perlu berjalan kaki bila ke mana-mana, aku masih saja setia menekuri aspal-aspal jalanan ini dengan kakiku. Dengan kakiku. Bukan dengan roda-roda. Tapi aku tetaplah tersenyum mencumbu aspal-aspal itu, walau sol sepatu kulit bututku mirng sebelah rasanya memang itu yang harus kulakukan. Kalau suatu saat duit di kantongku sedikit bengkak, paling banter aku akan memelukmu, angkot-angkotku. Tertawalah bersamaku. Kita senasib”.

Sementara sirene terus meraung-raung meninggalkanku, aku sekan dibawa ke suatu keadaan di mana orang-orang mencibir, menghujat, dan mengutuk. Mencibir, menghujat dan mengutukki sirene itu. Ada keangkuhan yang terlontar dari raungannya yang membahana. Sekan-akan berkata, “Inilah wahai, aku dating dengan keperkasaan dan kekuasaanku. Maka menepi dan menyingkirlah kalau tak mau kuusir secara paksa. Lihat di depan dan di sekitarku, pengawal-pengawalku siap memangsamu jika kalian mencoba-coba usil mengganggu perjalananku”. Seperti dikomando semuanya menepi, memberi jalan seluas-luasnya. Mobil-mobil, tukang-tukang ojek, georbak-gerobak dorong pedagang keliling, orang-orangpun menepi sambal melongo memberi keleluasaan kepada rombongan mereka. Bukankah jalan, jembatan, taman-taman, kantor-kantor, hingga tempat-tempat maksiat dan segala pembangunan di kota ini mereka juga yang membangun? Dengan berbagai macam program yang melalui perdebatan sengit di gedung milik rakyat. Saling gontok saling sodok, bahkan tak jarang saling berselingkuh untuk mengegolkan anggaran belanja yang tidak realistis itu? Di sana, di gedung milik rakyat. Kata siapa gedung itu milik rakyat? Nyatanya digunakan bukan untuk kepentingan rakyat kok. Malah lebih sering terdengar demi kepentingan perut-perut buncit itu. Lobi dan kompromi-kompromi sudah menjadi tradisi. Prinsipnya, no lobby no money? He, he, he! Eh, tidak juga. Sebenarnya orang-orang yang tertindas di sini juga ikut andil dengan semua ini. Bagaimana mereka membangun bila tidak ada orang-orang itu. Pajak-pajak yang dipungut itu untuk apa, belum lagi pungutan-pungutan yang tidak jelas ujung pangkalnya itu. Apak hal ini bukan pertanda kalau orang-orang yang tertindas itulah yang membangun daerah mereka sendiri? Jadi bukan mutlak atas kebaikan mereka. Kita hanya dikelabui dengan dalih birokrasi yang berbelit-belit. Susah, seperti sembelit. Ah, lagi-lagi aku hanya bisa mendesah dan menyisakan senyum getir nyinyir.

Dan seperti munculnya sirene-sirene sebelumnya, sore ini jalan-jalan macet total. Sekedar ingin memberikan sedikit pelayanan kepada bapak-napak itu, semua merelakan waktunya terbuang percuma. Aku, seharusnya sudah sampai di rumah seandainya tidak ada rombongan mobil mewah dengan sirene-sirene sialan itu. Sudah lebih tiga puluh menit waktuku melayang. Bagiku itu sangat berharga sekali, jika kugunakan untuk menemani ibu yang utuh aku di sampingnya. Aku membayangkan kerepotan ibu sendirian di rumah. Belum lagi kesehatannya tidak terlalu baik ketika kutinggalkan siang tadi.

Baru ketika matahari jatuh meninggalkan padmasananya dan sebentar lagi hitam menyelimuti senja, kuhempaskan tubuhku di jok sebuah angkot. Semburat jingga teja masih membias dari kaca spion. Jalanan tidak macet lagi. Lalu lintas berjalan seperti biasa. Coba kalau sedari tadi aku begini, tentu tidak terlalu lama menunggu di halte itu. Brengsek. Aku mengutukki sirene-sirene itu, sialan. Menurutku mereka terlalu berbangga diri dengan kedudukannya. Sebagai pejabat-pejabat yang baik, seharusnya tidak perlulah membunyikan sirene bila ingin berkunjung ke daerah-daerah. Apalagi sampai meraung-raung dengan volume tinggi. Pernah kita membayangkan apa yang terjadi jika rombongan bersirene itu melewati rumah penduduk yang penghuninya sedang sakit. Butuh ketenaangan, namun tiba-tiba diusik oleh suara brengsek itu? Apa yang terjadi? Dan kulihat lintasan yang dilalui adalah jalur-jalur yang memang ada larangan, “Dilarang Membunyikan Klakson”. Etiskah jika di saat rumah sakit menginginkan ketenangan penghuninya tiba-tiba dikejutkan oleh sirene yang meraung-raung melintas di depannya? Etiskah jika di tempat-tempat ibadah yang sedang melakukan ibadahnya tiba-tiba terganggu hanya karena bunyi-bunyi itu? Brengsek, dengusku lagi.

Aku semakin kalut. Apalagi angkot yang kutumpangi sebentar-sebentar berhenti menaikkan dan menurunkan penumpang. Sial! Hatiku semakin cemas dan seperti ada perasaan lain yang mengganjal. Resah, gelisah dan semacam ketakutan. Di tikungan angkot berhenti menurunkan penumpang. Aku turut turun walau jarak rumahku agak jauh. Bah, aku tak sabar lagi untuk segera sampai di rumah. Lalu kulangkahkan kakiku menggauli trotoar dengan tergesa-gesa. Hingga tak sadar lagi kakiku terantuk pembatas trotoar, nyaris terpelanting jika aku kurang gesit. Buku yang ada digenggamanku meluncur dan tergeletak dengan santainya di got. Brengsek, brengsek umpatku.

Ketika sampai di depan rumahku, mendadak ada seribu pertanyaan di benakku. Banyak orang berdesakkan ingin masuk. Kupaksakan berlari dan menyeruak di sela-sela kerumunan tetanggaku. Kuarahkan pandangan di tengah ruangan. Sesosok tergeletak dibungkus kain panjang. Aku terkejut. Tanganku tanpa sadar bergerak membuka kain yang membungkusnya. Ah, tubuhku lemas seketika. Antara sadar dan tidak kudengar, “Sirene itu yang ……”. Aku tak bisa lagi mendengarnya. Terkulai pingsan.

 

****

 

SS, 2001-2015

 

Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.

Add Comment