Sikap dan Kaitanya dengan Hasil Belajar

Oleh:

M. Jainuri, M.Pd

 

A. Sikap Belajar 

1. Pengertian Sikap

Sikap atau attitude merupakan suatu cara bereaksi terhadap suatu perangsang (stimuli). Suatu kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap suatu perangsang atau situasi yang dihadapi. Bagaimana reaksi seseorang jika ia terkena suatu rangsangan baik mengenai orang, benda-benda, ataupun situasi-situasi mengenai dirinya.

Tiap orang mempunyai sikap yang berbeda-beda terhadap suatu perangsang. Ini disebabkan oleh berbagai faktor yang ada pada individu masing-masing seperti adanya perbedaan dalam bakat, minat, pengalaman, pengetahuan, intensitas perasan, dan juga situasi lingkungan. Demikian pula sikap pada diri seseorang terhadap sesuatu atau perangsang yang sama mungkin juga tidak selalu sama.  

Hadis (2006:38) mengatakan: “Sikap dapat diartikan sebagai kecenderungan seseorang untuk bereaksi terhadap suatu objek atau rangsangan tertentu”. Sedangkan menurut Bruno (dalam Syah, 2007:120) berpandangan bahwa sikap (attitude) adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu. Senada dengan hal tersebut Anastasi dan Urbina (2007:445) menyatakan bahwa sikap merupakan  tendensi untuk bereaksi secara menyenangkan ataupun tidak menyenangkan terhadap sekelompok stimuli yang ditunjuk, seperti kelompok etnis, nasional, adat-istiadat atau lembaga. Kartono (1985:310) mengatakan bahwa sikap merupakan organisasi dari unsur-unsur kognitif, emosional dan momen-momen kemauan yang khusus dipengaruhi oleh pengalaman masa lampau, sehingga sifatnya sangat dinamis dan memberikan pengarahan pada setiap tingkah laku. Sementara menurut Bogardus (dalam Kartono, 1985:311) sikap merupakan “tendensi untuk bereaksi terhadap faktor-faktor lingkungan, dan bisa bersifat positif, atau bisa bersifat negatif”.

Dari pendapat-pendapat di atas pada prinsipnya sikap (attitude) dapat dianggap sebagai suatu kecenderungan siswa untuk bertindak dengan cara tertentu. Dalam hal ini perilaku belajar siswa akan ditandai dengan munculnya  kecenderungan-kecenderungan baru yang telah berimbas (lebih maju dan lugas) terhadap suatu obyek, tata nilai, peristiwa dan sebagainya.

 2.   Sikap Belajar

Dimyati (2006:239) menyatakan bahwa sikap belajar merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian tentang sesuatu mengakibatkan terjadinya sikap menerima, menolak, merasa senang dan tidak senang dalam melakukan aktifitas belajar.

Dengan mengacu kepada pengertian tentang sikap secara umum, maka sikap belajar dapat diartikan sebagai kecenderungan siswa untuk bereaksi terhadap pelajaran di sekolah. Reaksi positif atau senang dan reaksi negatif atau tidak senang yang ditunjukan oleh siswa di kelas dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi siswa ialah kemampuan dan gaya mengajar guru di kelas, metode, pendekatan dan strategi pembelajaran yang dipergunakan oleh guru, media pembelajaran, sikap dan perilaku guru, suara guru, lingkungan kelas, manajemen kelas dan berbagai faktor lain yang turut mempengaruhi sikap siswa.

Jika semua faktor tersebut memberikan pengaruhi positif kepada siswa, maka sikap yang terbentuk pada diri siswa ialah sikap belajar yang baik, yaitu siswa merasa senang dalam mengikuti proses pembelajaran yang dikelola oleh guru di kelas. Sebaliknya jika semua faktor tersebut memberikan pengaruhi negatif kepada siswa, maka sikap yang terbentuk pada diri siswa ialah sikap belajar yang tidak baik yaitu siswa merasa tidak senang dalam mengikuti pembelajaran yang dikelola guru di kelas.

Perilaku yang diperlihatkan siswa yang bersifat negatif atau tidak senang terhadap proses pembelajaran berupa sikap acuh tak acuh (apatis), siswa tidak aktif mengikuti pembelajaran, mengganggu teman sekelasnya, tidak mengerjakan atau menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya, keluar masuk kelas dan berbagai bentuk perilaku yang menyimpang lainnya. Sedangkan perwujudan tingkah laku yang positif atau senang terhadap proses pembelajaran ialah siswa aktif, tekun, ulet, menyelesaikan tugas-tugas belajar dengan baik, disiplin dalam belajar, tidak keluar masuk kelas, menghormati guru dan teman sekelasnya, aktif bertanya dan menjawab pertanyaan guru, menunjukkan kerja sama yang baik dengan teman kelas dan melakukan tugas-tugas belajar secara berkelompok dan sebagainya.

 B.  Belajar

1. Pengertian Belajar

Hasil belajar tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena belajar merupakan suatu proses, sedangkan hasil belajar adalah hasil dari proses pembelajaran tersebut. Bagi seorang siswa belajar merupakan suatu kewajiban. Berhasil atau tidaknya seorang siswa dalam pendidikan tergantung pada proses belajar yang dialami oleh siswa tersebut. Menurut Slameto (2003:2) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya dalam interaksi dengan lingkungannya.

Belajar tidak hanya dapat dilakukan di sekolah saja, namun dapat dilakukan di mana-mana, seperti di rumah ataupun di lingkungan masyarakat. Belajar merupakan proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu dan terjadi dalam jangka waktu tertentu. Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi. (Gagne dalam Purwanto, 1996: 84)

Di dalam belajar, siswa mengalami sendiri proses dari tidak tahu menjadi tahu, karena itu menurut Cronbach (dalam Suryabrata, 2004:231): belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami dan dalam mengalami itu pelajar mempergunakan pancainderanya. Pancaindera tidak terbatas hanya indera pengelihatan saja, tetapi juga berlaku bagi indera yang lain.

Berdasarkan dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan siswa untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, secara sengaja, disadari dan perubahan tersebut relatif menetap serta membawa pengaruh dan manfaat yang positif bagi siswa dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

 2. Prinsip – Prinsip Belajar

Dalam melakukan suatu kegiatan seseorang harus memiliki prinsip-prinsip tertentu, demikian juga halnya dengan belajar. Untuk menertibkan diri dalam belajar harus mempunyai prinsip, walaupun diketahui prinsip belajar sangat kompleks namun dapat juga dianalisis dan diperinci.

Menurut Slameto (2003:27-28) ada beberapa prinsip yang harus dimiliki dalam belajar, yaitu :

  1. Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan partisipasi aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional.
  2. Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa.
  3. Belajar perlu lingkungan yang menantang di mana siswa dapat mengembangkan kemampuannya bereksplorasi dan belajar dengan efektif.
  4. Belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkungannya.
  5. Belajar itu proses kontinu, maka harus tahap demi tahap menurut perkembangannya.
  6. Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery.
  7. Belajar adalah proses kontinguitas (hubungan antara pengertian yang satu dengan pengertian yang lain) sehingga mendapatkan pengertian yang diharapkan.
  8. Belajar bersifat keseluruhan dari materi itu harus memiliki struktur dan penyajian yang sederhana.
  9. Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksional yang harus dicapai.
  10. Belajar memerlukan sarana yang cukup.
  11. Repetisi, dalam proses belajar perlu ulangan berkali-kali  agar pengertian, keterampilan atau sikap itu ada pada siswa.

Sedangkan Dimyati (2006:42) menyatakan bahwa prinsip-prinsip belajar adalah sebagai berikut :

  1. Perhatian dan motivasi
  2. Keaktifan
  3. Keterlibatan langsung / berpengalaman.
  4. Pengulangan
  5. Tantangan
  6. Balikan dan penguatan
  7. Perbedaan individual

Menurut Dalyono (2005:51) prinsip-prinsip dalam belajar, yaitu :

  1. Kematangan jasmani dan rohani
  2. Memiliki kesiapan
  3. Memahami tujuan
  4. Memiliki kesungguhan
  5. Ulangan dan latihan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dengan pemahaman siswa mengenai prinsip-prinsip belajar, siswa dapat aktif melibatkan diri dalam mengeksplorasi prinsip-prinsip dasar sehingga akan memahami konsep belajar yang lebih baik.

 C. Hasil Belajar

1.   Pengertian Hasil Belajar

Untuk mendapatkan suatu hasil tidaklah semudah yang dibayangkan, karena memerlukan perjuangan dan pengorbanan dengan berbagai tantangan yang harus dihadapi. Penilaian terhadap hasil belajar siswa untuk mengetahui sejauhmana ia telah mencapai sasaran belajar inilah yang disebut sebagai hasil belajar. Proses belajar yang dialami oleh siswa menghasilkan perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan dan pemahaman, dalam bidang nilai, sikap dan keterampilan. Adanya perubahan tersebut tampak dalam hasil belajar yang dihasilkan oleh siswa terhadap pertanyaan, persoalan atau tugas yang diberikan oleh guru. Melalui hasil belajar siswa dapat mengetahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapainya dalam belajar.

Gagne (dalam Wuryani, 2006:217) berpendapat bahwa hasil belajar dibedakan menjadi lima aspek, yaitu: kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap dan keterampilan. Sedangkan Bloom (dalam Arikunto, 2009:117) menyatakan hasil belajar dibedakan menjadi tiga aspek, yaitu: aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Menurut Purwanto (2008:22) yang dimaksud dengan hasil adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan atau dikerjakan oleh seseorang. Sedangkan hasil belajar itu sendiri diartikan sebagai hasil yang dicapai oleh seorang siswa pada jangka waktu tertentu dan dicatat dalam buku rapor sekolah.

Dari beberapa definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar merupakan  hasil usaha belajar yang dicapai seorang siswa berupa suatu kecakapan dari kegiatan belajar bidang akademik di sekolah pada jangka waktu tertentu yang dicatat pada setiap akhir semester di dalam buku laporan yang disebut rapor.

 2.   Faktor-faktor yang mempengaruhi Hasil Belajar

Untuk meraih hasil belajar yang baik, banyak sekali faktor yang perlu diperhatikan, karena di dalam dunia pendidikan tidak sedikit siswa yang mengalami kegagalan. Kadang ada siswa yang memiliki dorongan yang kuat untuk berhasil dan kesempatan untuk meningkatkan hasil, tapi dalam kenyataannya hasil yang dihasilkan di bawah kemampuannya.

Untuk meraih hasil belajar yang baik banyak sekali faktor-faktor yang perlu diperhatikan. Menurut  Suryabrata (1998:233) dan Slameto (2003:54),  secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dan hasil belajar dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.:

Faktor internal

Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang dapat mempengaruhi hasil belajar. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :

1).  Faktor fisiologis atau jasmaniah

Dalam hal ini, faktor fisiologis yang dimaksud adalah faktor yang berhubungan dengan kesehatan dan pancaindera.

a)       Kesehatan badan

Untuk dapat menempuh studi yang baik siswa perlu memperhatikan dan memelihara kesehatan tubuhnya. Keadaan fisik yang lemah dapat menjadi penghalang bagi siswa dalam menyelesaikan program studinya. Dalam upaya memelihara kesehatan fisiknya, siswa perlu memperhatikan pola makan dan pola tidur, untuk memperlancar metabolisme dalam tubuhnya. Selain itu, juga untuk memelihara kesehatan bahkan juga dapat meningkatkan ketangkasan fisik dibutuhkan olahraga yang teratur.

b)      Pancaindera

Berfungsinya pancaindera merupakan syarat supaya belajar itu dapat berlangsung  dengan baik. Dalam sistem pendidikan dewasa ini di antara pancaindera itu yang paling memegang peranan dalam belajar adalah mata dan telinga. Hal ini penting, karena sebagian besar hal-hal yang dipelajari oleh manusia  dipelajari melalui penglihatan dan pendengaran. Dengan demikian, seorang anak yang memiliki cacat fisik atau bahkan cacat mental akan menghambat dirinya didalam menangkap pelajaran, sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi hasil belajarnya di sekolah.

2)  Faktor psikologis

Ada banyak faktor psikologis yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa, antara lain adalah :

a)      Intelligensi

Pada umumnya, hasil belajar yang ditampilkan siswa mempunyai kaitan yang erat dengan tingkat kecerdasan yang dimiliki siswa. Menurut Stern dalam Djaali (2008:63) inteligensi adalah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan mempergunakan ala-alat berpikir menurut suatu tujuan, untuk mengadakan suatu penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu dan untuk menilai keadaan diri secara kritis dan objektif.  Taraf inteligensi ini sangat mempengaruhi hasil belajar seorang siswa, di mana siswa yang memiliki taraf inteligensi tinggi mempunyai peluang lebih besar untuk mencapai hasil belajar yang lebih tinggi. Sebaliknya, siswa yang memiliki taraf inteligensi yang rendah diperkirakan juga akan memiliki hasil belajar yang rendah. Namun bukanlah suatu yang tidak mungkin jika siswa dengan taraf inteligensi rendah memiliki hasil belajar yang tinggi, juga sebaliknya .

b)      Sikap

Sikap yang pasif, rendah diri dan kurang percaya diri dapat merupakan faktor yang menghambat siswa dalam menampilkan hasil belajarnya. Menurut Wuryani (2006:20) sikap adalah suatu kecenderungan untuk berbuat atau berindak secara positif atau negatif terhadap orang-orang, ide-ide atau kejadian-kejadian tertentu. Sikap siswa yang positif terhadap mata pelajaran di sekolah merupakan langkah awal yang baik dalam proses belajar mengajar di sekolah.

c)      Motivasi

Menurut McDonald (dalam Wasty, 2006:203) motivasi adalah suatu perubahan tenaga di dalam diri/pribadi seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi-reaksi dalam usaha mencapai tujuan. Motivasi belajar adalah pendorong seseorang untuk belajar. Motivasi timbul karena adanya keinginan atau kebutuhan-kebutuhan dalam diri seseorang. Seseorang berhasil dalam belajar karena ia ingin belajar. Sedangkan menurut Dimyati (2006:80) motivasi belajar adalah sebagai dorongan mental yang menggerakan dan mengarahkan perilaku manusia termasuk perilaku belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar itu; maka tujuan yang dikehendaki oleh siswa tercapai. Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual. Peranannya yang khas ialah dalam hal gairah atau semangat belajar, siswa yang termotivasi kuat akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar.

 Faktor eksternal

Selain faktor-faktor yang ada dalam diri siswa, ada hal-hal lain diluar diri yang dapat mempengaruhi hasil belajar yang akan diraih, antara lain adalah :

1). Faktor lingkungan keluarga

a)  Sosial ekonomi keluarga

Dengan sosial ekonomi yang memadai, seseorang lebih berkesempatan mendapatkan fasilitas belajar yang lebih baik, mulai dari buku, alat tulis hingga pemilihan sekolah

b). Pendidikan orang tua

Orang tua yang telah menempuh jenjang pendidikan tinggi cenderung lebih memperhatikan dan memahami pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya, dibandingkan dengan yang mempunyai jenjang pendidikan yang lebih rendah.

c). Perhatian orang tua dan suasana hubungan antara anggota keluarga

Dukungan dari keluarga merupakan suatu pemacu semangat berpretasi bagi seseorang. Dukungan dalam hal ini bisa secara langsung, berupa pujian atau nasihat, maupun secara tidak langsung, seperti hubugan keluarga yang harmonis.

2).  Faktor lingkungan sekolah

a). Sarana dan prasarana

Kelengkapan fasilitas sekolah, seperti papan tulis, OHP akan membantu   kelancaran proses belajar mengajar di sekolah; selain bentuk ruangan, sirkulasi udara dan lingkungan sekitar sekolah juga dapat mempengaruhi proses belajar mengajar

b). Kompetensi guru dan siswa

Kualitas guru dan siswa sangat penting dalam meraih hasil, kelengkapan sarana dan prasarana tanpa disertai kinerja yang baik dari para penggunanya akan sia-sia belaka. Bila seorang siswa merasa kebutuhannya untuk berhasil dengan baik di sekolah terpenuhi, misalnya dengan tersedianya fasilitas dan tenaga pendidik yang berkualitas, yang dapat memenuhi rasa ingin tahunya, hubungan dengan guru dan teman-temannya berlangsung harmonis, maka siswa akan memperoleh iklim belajar yang menyenangkan. Dengan demikian, ia akan terdorong untuk terus-menerus meningkatkan hasil belajarnya.

 c).  Kurikulum dan metode mengajar

Hal ini meliputi materi dan bagaimana cara memberikan materi tersebut kepada siswa. Metode pembelajaran yang lebih interaktif sangat diperlukan untuk menumbuhkan minat dan peran serta siswa dalam kegiatan pembelajaran. Hadis (2006:77) mengatakan bahwa faktor yang paling penting adalah faktor guru. Jika guru mengajar dengan arif bijaksana, tegas, memiliki disiplin tinggi, luwes dan mampu membuat siswa menjadi senang akan pelajaran, maka hasil belajar siswa akan cenderung tinggi, paling tidak siswa tersebut tidak bosan dalam mengikuti pelajaran.

3).  Faktor lingkungan masyarakat

a). Sosial budaya

Pandangan masyarakat tentang pentingnya pendidikan akan mempengaruhi kesungguhan pendidik dan peserta didik. Masyarakat yang masih memandang rendah pendidikan akan enggan mengirimkan anaknya ke sekolah dan cenderung memandang rendah pekerjaan guru/pengajar.

b). Partisipasi terhadap pendidikan

Bila semua pihak telah berpartisipasi dan mendukung kegiatan pendidikan, mulai dari pemerintah (berupa kebijakan dan anggaran) sampai pada masyarakat bawah, setiap orang akan lebih menghargai dan berusaha memajukan pendidikan dan ilmu pengetahuan

3.   Pengukuran Hasil Belajar   

Dalam dunia pendidikan, menilai merupakan salah satu kegiatan yang tidak dapat ditinggalkan. Menilai merupakan salah satu proses belajar dan mengajar. Di Indonesia, kegiatan menilai hasil belajar bidang akademik di sekolah-sekolah dicatat dalam sebuah buku laporan yang disebut rapor. Dalam rapor dapat diketahui sejauh mana hasil belajar seorang siswa, apakah siswa tersebut berhasil atau gagal dalam suatu mata pelajaran. Didukung oleh pendapat  Suryabrata (2004:296) bahwa rapor merupakan perumusan terakhir yang diberikan oleh guru mengenai kemajuan atau hasil belajar murid-muridnya selama masa tertentu.

Arikunto (2009:10) menyebutkan bahwa ada beberapa fungsi penilaian dalam pendidikan, yaitu :

a.  Penilaian berfungsi selektif (fungsi sumatif)

Fungsi penilaian ini merupakan pengukuran akhir dalam suatu program dan hasilnya dipakai untuk menentukan apakah siswa dapat dinyatakan lulus atau tidak dalam program pendidikan tersebut. Dengan kata lain penilaian berfungsi untuk membantu guru mengadakan seleksi terhadap beberapa siswa, misalnya :

1). Memilih siswa yang akan diterima di sekolah

2)  Memilih siswa untuk dapat naik kelas

3). Memilih siswa yang seharusnya dapat beasiswa

4). Memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah

b. Penilaian berfungsi diagnostik

Fungsi penilaian ini selain untuk mengetahui hasil yang dicapai siswa juga mengetahui kelemahan siswa sehingga dengan adanya penilaian, maka guru dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan masing-masing siswa. Jika guru dapat mendeteksi kelemahan siswa, maka kelemahan tersebut dapat segera diperbaiki.

c. Penilaian berfungsi sebagai penempatan (placement)

Setiap siswa memiliki kemampuan berbeda satu sama lain. Penilaian dilakukan untuk mengetahui di mana seharusnya siswa tersebut ditempatkan sesuai dengan kemampuannya yang telah diperlihatkannya pada hasil belajar yang telah dicapainya. Sebagai contoh penggunaan nilai rapor SMK kelas I menentukan jurusan studi di kelas II.

d. Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan (fungsi formatif)

Penilaian berfungsi untuk mengetahui sejauh mana suatu program dapat diterapkan. Sebagai contoh adalah rapor di setiap semester di sekolah-sekolah tingkat dasar dan menengah dapat dipakai untuk mengetahui apakah program pendidikan yang telah diterapkan berhasil diterapkan atau tidak pada siswa  tersebut.

Rapor biasanya menggambil nilai dari angka 1 sampai dengan 10, terutama pada siswa SD sampai SMK, tetapi dalam kenyataan nilai terendah dalam rapor yaitu 4 dan nilai tertinggi 9. Nilai-nilai di bawah 5 berarti tidak baik atau buruk, sedangkan nilai-nilai di atas 5 berarti cukup baik, baik dan sangat baik.

Dalam penelitian ini pengukuran hasil belajar menggunakan penilaian sebagai pengukur keberhasilan (fungsi formatif), yaitu nilai hasil ulangan harian.

 

Referensi:

 Anastasi, Anne dan Urbina, Susana, 2007. Tes Psikologi. Jakarta : PT. Indeks

Arikunto, Suharsimi, 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara

Dalyono, 2005. Psikologi Pendidikan.  Jakarta : PT. Rineka Cipta

Dimyati, Mudjiono, 2006. Belajar dan Pembelajaran.  Jakarta : PT. Rineka Cipta

Djaali, 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara

Hadis, Abdul, 2006. Psikologi dalam Pendidikan.  Bandung : Alfabeta

Kartono, Kartini, 1985. Psikologi Sosial untuk Manajemen Perusahaan dan Industri. Jakarta : CV. Rajawali

Syah, Muhibbin, 2007. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung :  PT. Remaja Rosdakarya

Purwanto, Ngalim, 1996. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

_______________, 2008. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya  

Wasty, Soemanto. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Rineka Cipta

Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya.  Jakarta : PT. Rineka Cipta

Suryabrata, Sumadi, 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

Wuryani, Esti, 2006. Psikologi Pendidikan.  Jakarta : PT. Grasindo

Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.

Add Comment