BolehSAJA.net

20 Aug 2013

Sastra Kita Sastra yang Mana?

Posted on: No Comments

Saur SitumorangJika kita jeli,belakangan ini dan mungkin sejak jauh-jauh hari sastra kita telah terkontaminasi dengan berbagai unsur yang dapat menenggelamkan citra puitis yang bnaturalis bercorak Indonesianis. Memang ini mungkin pikiran yang sempit, namun setidaknya kita mesti sedikit bercermin. Bagaimana kita tidak gelisah, kalau event-event sastra terbesar di bumi ini telah dipelinitr oleh sekelompok orang yang mengaku sastrawan dan ditunggangi oleh kepentingan kapitalisme. Seharusnya, jujur saja semestinya mereka tidak berhak bersikap seperti itu……

Di antara hingar-bingar polemik itu tampilah, Saut Situmorang sebagai sosok penting dalam percaturan sastra Indonesia saat ini. Ia saat ini – dengan cara dan jalan yang ia pilih sendiri menghantam dominasi Komunitas Teater Utan Kayu (TUK). Ia mencemaskan dominasi itu. Majalah Playboy ketika mewawancarai Goenawan Mohamad, sang tokoh sentral TUK, perlu menanyakan ihwal “peringatan-peringatan” Saut Situmorang itu. Banyak pihak tidak suka dan tidak nyaman dengan gaya dan pilihan cara berwacana Saut Situmorang. Dia pasti tidak akan peduli pada ketidaksukaan orang lain. Saya menyukai esei-eseinya yang selalu tajam dan selalu kuat dengan ide. Ia misalnya pernah menulis di Kompas mempertanyakan tujuan dan pencapaian Kongres Cerpen Indonesia. Ia juga yang membela sastra di internet ketika ada hujatan bahwa sastra di internet adalah sampah. 24 Agustus 2007, ada diskusi di Yogyakarta. Pembicaranya Wowok Hesti Prabowo, Gus tf, Aslan Abidin, dan Saut sebagai moderator. Wowok Hesti Prabowo tampil dengan makalah yang menghantam TUK dengan sejumlah kecemasan akibat dominasi TUK. Ia bersama Saut Situmorang menerbitkan “Jurnal Boemipoetra” yang membawa misi mereka. Aslan mempertanyakan peran redaktur sastra di surat kabar minggu. Gus tf memaparkan ihwal tantangan proses kreatif penyair. Gus tf dan Aslan mempertanyakan “cara kasar” yang dipilih oleh Wowok dan Saut untuk “memperingatkan” TUK. Saut jugalah tokoh yang getol memperingatkan bahwa sastra Indonesia krisis kritikus. Tidak ada kritik sastra yang baik di Indonesia saat ini.

Dengan modal pendidikannya, dengan pengalamannya mengajar dan belajar di luar negeri, saya kira sebenarnya Saut bisa menjadi kritikus yang tajam dan berpengaruh besar. Tapi, sejauh ini Saut telah memilih perannya sendiri, dia menjalani pilihan peran itu dengan caranya sendiri yang membuat banyak pihak tidak nyaman. Kembali ke sajak “Bantul Mon Amour”. Sebagai pembaca saya menyukai sajak itu. Saya melihat sosok lembut seorang Saut pada sajak itu. Bantul pada judul dan imaji reruntuhan pada awal sajak, mengingatkan pada gempa yang terjadi di sana. Tapi, bagaimana pun, saya kira, ini bukan sajak terbaik Saut. Saya menemukan sajak-sajak yang asyik di bukunya “Saut Kecil Bicara dengan Tuhan”. Bagaimana dengan kata “dewa” dan “pura” di penggal akhir sajak itu? Saya kira Saut dengan sadar memilih kata itu, dan pilihan katanya tepat. Ironi, kontras, paradoks antara korban gempa dan “pelacur” yang tak berdaya dan masih saja bergelur di kamar, dengan kecemburuan si “aku” karena si “pelacur” berbisik tentang “para dewa” yang telah menggilirnya di “altar pura”. Korban bencana saya kira pas sekali nasibnya disejajarkan dengan para pelacur yang tak berdaya. Tak punya pilihan. Kemana sastra Indonesia akan kita bawa ?

Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.

More About: Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.
View More Posts By Jen Kelana
Posted on: 20/08/2013 | |

Leave a Reply


Slideshow

Boleh Arsip

Mungkin sahabat ingin juga membaca:close