Sastra Jambi: Sebuah celoteh

Sastra makin lama menjadi sebuah komoditi keseharian. Hampir pada setiap media massa terdapat kolom atau rubrik yang mengangkat persoalan sastra dan seni budaya pada umumnya. Dan hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang baru baik dalam perbincangan awam maupun pada tataran pelaku, penikmat dan pemerhati sastra itu sendiri. Masih terbatasnya tingkat apresiasi terhadap sastra sangat dimungkinkan barangkali karena minimnya pengetahuan dan kemauan untuk menggali apa yang tercantum dalam ranah sastra itu. Namun apa sesungguhnya makna dan implikasi sastra tersebut dalam sebuah perilaku manusia berbudaya (human culture) dan terbentuknya komunitas baru (new comunity), belum terbayangkan bahkan belum terekonstruksi dengan baik. Dan jika dilanjutkan dalam arah pertanyaan lanjutan: Mampukah sastra mengarah pada sebuah imajinasi atau angan-angan terbentuknya suatu tatanan kehidupan berbudaya baru dalam kehidupan manusia ? Implikasinya…..
 
sastra kemudian menjadi sebuah kata yang konsumtif. Apalagi kalau diimbangi dengan ketidakmengertian implikasi dan komplikasinya.
Mengingat jagad kemanusiaan ditandai adanya pluralisme budaya yang lintas batas (trans culture), maka sastra sebagai proses juga menggejala sebagai peristiwa yang lambat laun menjadi sesuatu yang harus dilekatkan pada image manusia berbudaya. Dalam gerak lintas sastra ini terjadi berbagai pertemuan antar komponen lain seperti bahasa sekaligus mewujudkan proses saling mempengaruhi.
 
Dalam konteks inilah perbicangan atas wavcana kesastraan menjadi suatu hal yang harus dikedepankan. Bentuk perbicangan itu bisa berupa diskusi sastra, dialog sastra, workshop, lomba-lomba seputar sastra, kongres sastra, temu sastrawan dan lain-lainnya. Terlepas dari segala kepentingan tentang wacana satra, sastra Jambi sangatlah perlu diakomodasi secara lebih intens. Supaya sastra Jambi yang juga merupakan salah satu kantung sastra nasional tidak ditinggalkan oleh pemeran sastra di daerah ini. Barangkali kita tidak bisa berkata banyak tentang kesastraan Jambi bila suatu ketika berdialog dengan komunitas sastra dari daerah lain. Untuk itulah keikutsertaan komunitas sastra kita dalam Temu Sastrawan Indonesia (TSI) yang diselenggarakan di Kota Jambi.
 
Temu Sastrawan Indonesia dikonsepkan sebagai ajang untuk mellihat peta pertumbuhan kesusastraan yang belakangan sering dipersoalkan terutama menyangkut pencapaian-pencapaian estetika, gugatan terhadap aktualitas, persoalan tematik sampai pada wadah sosialisasinya, yang selama ini tergantung kepada eksistensi media massa ( koran ). Tentu saja berbagai macam gugatan atau harapan yang muncul seputar kondisi ini – betapapun minimnya – sangat layak untuk diperhatikan dan diakomodasi. Setidaknya dari pandangan- pandangan yang terakomodasi tersebut dapat menjawab berbagai polemik yang belakangan juga semakin tidak mempercayai eksistensi sastra yang tumbuh sebagai resiko adanya sastra koran. Beberapa kalangan berpendapat, pemiskinan pencapaian estetik yang melatarbelakangi penciptaan sastra dipicu oleh kedangkalan para penulisnya itu sendiri dalam mereduksi bacaan ataupun fenomena yang akan memperkaya wilayah proses kreatifnya.

Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.

Add Comment