Sajak-Sajak: Asro al Murthawy (1)

asro copy
 
NISBAT LANGIT
 
Mungkin telah sampai padamu sebuah riwayat,
kisah purba lelaki yang melayarkan tekad
mengarungi separuh busur bulatan bumi.
 
Langit yang maha, laut yang maha
dimanakah batas bentang  horisonnya?
Ada yang berdesir menggeragap di tiap bangun pagi
mendapati langit yang lain”: O alangkah beda
dengan lelangit biru semasa kanak dahulu.
 
Lalu ditandainya sekeping dua keping bintang
dirangkairekanya jadi sesuatu yang karib
dalam benak jiwanya: Scorpion, Orion, Gubuk Penceng dan Waluku.
 
 Maka terangkumlah sinarnya jadi suar
memetakan arah timur barat
penanda jalan pulang
Sungguh, kaupun akan menjelma menjadi lelaki itu
menggeragap dari bangun kuburmu
menjumpai laut yang lain langit yang asing.
O, alangkah beda dengan lelangit masa hidupmu.
Barzah yang maha, mahsyar yang maha
dimanakah batas bentang khorisonnya?
Maka buatlah seulas tanda
 gamitlah tahmid gemakan takbir dan tahlil menggigil
rangkum kerlipnya jadi suar
 memetakan jalan sepanjang siroth
 mnuju jalan Pulang
 
Sanggar IMAJI 1428 h
 
 
SYAHADAT SENGGAMA
 
Subhanallah! Bahkan tubuh mulusmu adalah bentang sajadah
maka makin kukhusyukkan sujudku
meniti untaian tasbih dengan menelusuri ragamu
 tuntas penuh. Mengecap pori demi pori
menerjemahkan alhamdulillah sezarah
demi sezarah
 
Bahkan lenguhan kecilmu serupa dzikir azasi
penanda syukur jiwa fitri.
Lihat! Denyarnya menyentuh kisi-kisi dinding arasyi.
Sungguh keringat yang melelehi punggungmu
memetakan jalan jihad kita melayari titah.
Jangan kau usap biarlah bekasnya menjelma
sungai-sungai mengaliri kiri kanan firdaus
yang kita bangun dengan kebersahajaan hati
 
Subhanallah! Terimalah sembahnyangku
Dalam nikmat senggama
 
 
Sanggar IMAJI Bangko 1428 H
 
 
 
DINGINKAH   ITU
 
Dinginkah itu
yang menghadirkan lembut wajahmu
melukisi kelopak mata?
 
Memasuki gerbang kenang
melintas limit batas waktu
adalah memutar ulang sejarah
kisah sederhana lelaki  lugu yang terpukau
 pesona pelangi
menapak tilas episode kecil
yang terserpih di reranting casiafera
 
Ada bias cemas
menyaksikan pal-pal berlari
merentangkan jarak dua titik noktah
menjadi sesayup jauh. Nun.
Tapi debar hati
justru meneagaskan senyum
dan riap rambutmu
teramat dekat
lekat
 
Sanggar Imaji, Kerinci 1433 H
 
 
 
DARI UJUNG TANJUNG
 
Dari ujung tanjung tempat kita bertatapan dulu
dapat kubaui wangi aroma bangun tidurmu.
Bukan karena parfum yang kau pakai
tapi lebih pada ruap sisa keringat malam tadi.
 
Sanggar Imaji, Ujng Tanjung 1433 H

Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.

Add Comment