Psikologi Tingkah Laku VS Psikologi Kognitif

 Oleh:

M. Jainuri, M.Pd

 Teori belajar selalu bertolak dari sudut pandang psikologi belajar tertentu. Dengan berkembangnya psikologi dalam pendidikan, seiring hal tersebut bermunculan pula berbagai teori tentang belajar. Psikologi belajar atau disebut pula dengan teori belajar adalah teori yang mempelajari perkembangan intelekual (mental) siswa. Di dalamnya terdiri dari dua hal, yaitu:

  1. Uraian tentang apa yang terjadi dan diharapkan terjadi pada intelektual anak
  2. Uraian tentang kegiatan intelektual anak mengenai hal-hal yang bisa dipikirkan pada usia tertentu

Psikologi mengajar atau teori mengajar berisi tentang petunjuk bagaimana semestinya mengajar siswa pada usia tertentu, bila ia sudah siap belajar. Jadi pada teori mengajar terdapat prosedur dan tujuan mengajar. Dalam proses belajar siswa merupakan subjek dan bukan objek, selanjutnya peristiwa belajar dan mengajar ini sesuai dengan istilah dalam kurikulum akan disebut pembelajaran, yang berkonotasi pada proses kinerja yang sinergi antara setiap komponennya.

Beberapa teori belajar dari psikologi tingkah laku (behavioristik) dikemukakan oleh para psikolog behavioristik. Mereka ini sering disebut “contemporary behaviorist” atau juga disebut “S-R psychologists”. Mereka berpendapat, bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcement) dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulasinya.

 Aliran Psikologi Tingkah Laku Menurut Para Ahli

1. Teori Thorndike : The Law of Effect

Edward L. Thorndike (1874-1949) mengemukan beberapa hukum belajar yang dikenal dengan sebutan law of effect. Menurut  hukum ini belajar akan lebih berhasil bila respon murid terhadap suatu stimulus segera diikuti dengan rasa senang atau kepuasan teori belajar stimulus respon yang dikemukakan oleh thorndike ini disebut juga koneksionisme, teori ini mengatakan bahwa pada hakikatnya belajar merupakan proses pembentukan hubungan antara stimulus dan respon. Terdapat beberapa dalil:

a. Hukum Kesiapan (Law Of Readiness)

Yaitu menerangkan bagaimana kesiapan seorang anak dalam melakukan suatu kegiatan. Seorang anak yang mempunyai kecenderungan untuk bertindak atau melakukan kegiatan tertentu dan kemudian dia benar melakukan kegiatan tersebut, maka tindakannya akan melahirkan kepuasan bagi dirinya. Tindakan-tindakan lain yang dia lakukan tidak menimbulkan kepuasan bagi dirinya.

b. Hukum Latihan (Law Of Exercise) dan Hukum Akibat (Law Of Effect).

Hukum latihan menyatakan bahwa jika hubungan stimulus respon sering terjadi, akibatnya hubungan akan semakian kuat. Sedangkan makin jarang hubungan stimulus respon dipergunakan maka makin lemahnya hubungan yang terjadi. Dalam hukum akibat ini dapat disimpulkan bahwa kepuasan yang terlahir dari adanya ganjaran dari guru akan memberikan kepuasan bagi anak, dan anak cenderung untuk berusaha melakukan atau meningkatkan apa yang telah dicapainya itu. Guru yang memberi senyuman wajar terhadap jawaban anak, akan semakin menguatkan konsep yang tertanam pada diri anak. Kata-kata “Bagus”, “Hebat” , ”Kau sangat teliti” dan semacamnya akan merupakan hadiah bagi anak yang kelak akan meningkatkan dirinya dalam menguasai pelajaran.

Di samping itu, Thorndike mengutamakan pula bahwa kualitas dan kuantitas hasil belajar siswa tergantung dari kualitas dan kuantitas Stimulus-Respon (SR) dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Makin banyak dan makin baik kualitas S-R itu (yang diberikan guru) makin banyak dan makin baik pula hasil belajar siswa.

Implikasi dari aliran pengaitan ini dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari adalah bahwa:

  1. Dalam menjelaskan suatu konsep tertentu, guru sebaiknya mengambil contoh yang sekiranya sudah sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Alat peraga dari alam sekitar akan lebih dihayati.
  2. Metode pemberian tugas, metode latihan (drill dan practic) akan lebih cocok. Karena siswa akan lebih banyak mendapatkan stimulus sehingga respons yang diberikan pun akan lebih banyak.
  3. Dalam kurikulum, materi disusun dari materi yang mudah, sedang, dan sukar sesuai dengan tingkat kelas dan tingkat sekolah. Penguasaan materi yang lebih mudah sebagai akibat untuk dapat menguasai materi yang lebih sukar.

 2. Teori Skinner : Operant Conditioning

Burhus Frederic Skinner menyatakan bahwa ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcement) mempunyai peranan yang amat penting dalam proses belajar. Penguatan dapat dianggap sebagai stimulus positif, jika penguatan tersebut seiring dengan meningkatnya perilaku anak dalam melakukan pengulangan perilakunya itu. Untuk mengubah tingkah laku anak dari negatif menjadi positif, guru perlu mengetahui psikologi yang dapat digunakan untuk memperkirakan dan mengendalikan tingkah laku anak.

Skinner menambahkan bahwa jika respon siswa baik (menunjang efektivitas pencapaian tujuan) harus segera diberikan penguatan positif agar respon tersebut lebih baik lagi, atau minimal perbuatan baik itu dipertahankan.  Penemuan skinner memusatkan hubungan antara tingkah laku dan konsekuen. Contoh : jika tingkah laku individu segera diikuti oleh konsekuensi yang menyenangkan, individu akan menggunakan tingkah laku itu lagi sesering mungkin. Menggunakan konsekuen yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam mengubah tingkah laku sering disebut sebagai operant conditioning.

Konsekuen yang menyenangkan akan memperkuat tingkah laku, sementara konsekuen yang tidak menyenangkan akan memperlemah tingkah laku. Secara sederhana pembentukan tingkah laku dalam operant conditioning antara lain sebagai berikut :

  1. Mengidentifikasi hal-hal yang merupakan reinforcement bagi tingkah laku yang akan dibentuk.
  2. Melakukan analisis untuk mengidentifikasi aspek-aspek kecil yang membentuk tingkah laku yang dimaksud. Aspek-aspek tadi diurut untuk menuju terbentuknya tingkah laku tersebut.
  3. Dengan mempergunakan secara urut aspek-aspek itu sebagai tujuan sementara kemudian diidentifikasi reinforcer untuk masing-masing aspek atau komponen itu.
  4. Melakukan pembentukan tingkah laku dengan menggunakan urutan aspek-aspek yang telah disusun itu. Kalau aspek pertama telah dilakukan, maka hadiah (reward) diberikan ; ini mengakibatkan aspek itu sering dilkukan. Jika ini telah terbentuk, dilakukan aspek kedua dan diberi hadiah, demikian berulang-ulang sampai aspek kedua terbentuk dan demikian seterusnya terhadap aspek-aspek yang lain, samapai seluruh tingkah laku diharapkan akan terbentuk.

 Dalam pembelajaran, operant conditioning menjamin respon terhadap stimuli. Apabila peserta didik tidak menunjukkan reaksi-rekasi terhadap stimuli, guru tidak mungkin dapat membimbing tingkah lakunya sesuai dengan tujuan. Guru berperanan penting di dalam kelas untuk mengontrol dan mengarahkan kegiatan belajar ke arah tercapainya tujuan yang telah dirumuskan. Jenis-jenis stimuli :

  1. Positive reinforcement : penyajian stimuli yang meningkatkan probabilitas suatu respons.
  2. Negative reinforcement : pembatasan stimuli yang tidak menyenangkan, yang jika dihentikan akan mengakibatkan probabilitas respons.
  3. Hukuman : pemberian stimulus yang tidak menyenangkan misalnya “contradiction or reprimend”. Bentuk hukuman lain berupa penangguhan stimulus yang menyenangkan (removing of pleasant or reinforcing stimulus)
  4. Primary reinforcement : stimuli pemenuhan kebutuhan-kebutuhan psikologis.
  5. Scondary or leraned reinforcement
  6. Modifikasi tingkah laku guru : perlakuan guru terhadap peserta didik berdasarkan minat dan kesenangan mereka.

 3. Teori Ausubel

Teori ini terkenal dengan belajar bermaknanya dan pentingnya pengulangan sebelum belajar dimulai. Ia membedakan belajar menemukan dengan belajar menerima, jadi tinggal menghafalnya. Tetapi pada belajar menemukan konsep ditemukan oleh siswa, jadi tidak menerima pelajaran begitu saja. Selain itu untuk dapat membedakan antara belajar menghafal dengan belajar bermakna.

Pada belajar menghafal, siswa menghafal materi yang sudah diterimanya, tetapi pada belajar bermakna materi yang diperoleh itu dikembangkan dengan keadaan lain sehingga belajar lebih dimengerti. Selanjutnya bahwa Ausubel mengemukan bahwa metode ekspositori adalah metode mengajar yang baik dan bermakna. Hal ini dikemukan berdasarkan hasil penelitiannya. Belajar menerima maupun menemukan sama-sama dapat berupa belajar menghafal atau bermakna. Misalnya dalam mempelajari konsep Pitagoras tentang segitiga siku-siku, mungkin bentuk akhir c2= b2+a2 sudah disajikan, tetapi jika siswa memahami rumus itu selalu dikaitkan dengan sisi-sisi sebuah segitiga siku-sikuakan lebih bermakna.

Menurut Ausubel, siswa akan belajar dengan baik jika advance organizer (pengatur kemajuan belajar) didefinisikan dan dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa. Pengatur kemajuan belajar adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi dan mencakup semua inti pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa. Jadi proses belajar berlangsung secara deduktif (dari umum ke khusus).

Advance organizer dapat memberikan 3 macam manfaat, yaitu :

  1. dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi belajar yang akan dipelajari siswa.
  2. Dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sedang dipelajari siswa dengan saat ini dengan apa yang akan dipelajari siswa
  3. Membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah.

Oleh karena itu guru dituntut memiliki pengetahuan terhadap isi mata pelajaran dengan sangat baik serta dituntut pula untuk memiliki logika berfikir yang baik. Dimilikinya pengetahuan terhadap isi mata pelajaran dengan sangat baik  menjadikan guru  mampu menemukan informasi yang berciri sangat abstrak, umum, dan inklusif sehingga mampu mewadahi apa yang akan diajarkan. Logika berfikir guru yang baik akan menjadikan guru mampu untuk memilah-milah materi pelajaran dan merumuskannya dalam rumusan yang singkat, padat, serta mengurutkan materi demi materi itu ke dalam struktur urutan yang logis dan mudah dipahami.

Secara umum, teori Ausubel dalam praktek adalah sebagai berikut :

  1. Menentukan tujuan-tujuan instruksional
  2. Mengukur kesiapan mahasiswa (minat, kemampuan, struktur kognitif) baik melalui tes awal, interview, review, pertanyaan, dan lain-lain.
  3. Memilih materi pelajaran dan mengaturnya dalam bentuk penyajian konsep-konsep kunci
  4. Mengidentifikasi prinsip-prinsip yang harus dikuasai siswa dari materi tersebut.
  5. Menyajikan suatu pandangan secara menyeluruh tentang apa yang harus dipelajari
  6. Membuat dan menggunakan advance organizer, paling tidak dengan cara membuat rangkuman terhadap materi yang baru saja diberikan, dilengkapi dengan uraian singkat yang menunjukkan keterkaitan antara materi yang sudah diberikan dengan materi baru yang akan diberikan.
  7. Mengajar kepada siswa untuk memahami konsep dan prinsip-prinsip yang sudah ditentukan dengan memfokuskan pada hubungan yang terjalin antara konsep-konsep yang ada.
  8. Mengevaluasi proses dan hasil belajar.

 4. Teori Gagne

Menurut Gagne dalam belajar matematika ada dua objek yang dapat diperoleh langsung oleh siswa, yaitu objek langsung dan objek tidak langsung. Objek tak langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, belajar mandiri, bersikap positif terhadap matematika dan tahu bagaimana semestinya belajar. Sedangkan objek lansung berupa fakta, keterampilan, konsep, dan aturan.

Fakta adalah objek matematika yang tinggal menerimanya, seperti lambang bilangan, sudut, dan notasi-notasi matematika lainnya. Kemampuan berupa memberikan jawaban dengan tepat dan cepat,misalnya melakukan pembagian bilangan yang cukup besar dengan bagi kurang, menjumlahkan pecahan, melukis sumbu sebuah ruas garis.

Konsep adalah ilmu abstrak yang memungkinkan kita dapat mengelompokkan objek ke dalam contoh dan noncontoh misalkan konsep, bujur sangkar, bilangan prima, himpunan, dan fektor.

Aturan adalah objek yang paling abstrak yang berupa sifat dan teorema. Menurut Gagne, belajar dapat dikelompokkan menjadi delapan titik belajar yaitu: belajar isyarat, stimulus respon, rangkaian gerak, rangkaian verbal, membedakan, pembentukan konsep, pembentukan aturan, dan pemecahan masalah. Dalam pemecahan masalah biasanya ada 5 langkah yang harus dilakukan, yaitu :

  1. Menyajikan masalah dalam bentuk yang lebih jelas.
  2. Menyatakan masalah dalam bentuk yang lebih operasional.
  3. Menyusun hipotesis hipotesis alternattif dan prosedur kerja yang diperkirakan baik.
  4. Mengetes hipotesis dan melakukan kerja untuk memperoleh hasilnya.
  5. Mengecek kembali hasil yang sudah diperoleh.

 5. Teori Pavlov : Classical Conditioning

Teori classical conditioning/pembiasaan klasikal berkembang berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan oleh Ivan Petrovitch Pavlo (1849 – 1936) seorang ilmuwan Rusia yang meraih nobel pada tahun 1909 dalam bidang fisiologi. Pavlo terkenal dengan teori belajar klasik. Ia melakukan percobaan terhadap seekor anjing, anjing itu dikurung dalam suatu kandang dalam waktu tertentu dan diberi makan. Selanjutnya, setiap akan diberi makan Pavlov membunyikan bel, ia memperhatikan bahwa setiap dibunyikan berl pada waktu tertentu anjing itu mangeluarkan air liurnya, walaupun tidak diberi makanan.

Pavlov mengemukakan konsep pembiasaan atau conditioning. Dalalm hubugannya dalam kegiatan belajar mengajar agar siswa belajar dengan baik maka harus dibiasakan. Misalnya, agar siswa mengerjakan soal peekerjaan rumah dengan baik, biasakanlah dengan memeriksanya, menjelaskannya, atau memberi nilai terhadap hasil pekerjaannya.

 6. Teori Baruda

Baruda mengemukakan bahwa siswa belajar itu melalui meniru. Pengertian meniru di sini bukan berarti menyontek, tetapi meniru hal-hal yang dilakukan oleh orang lain, terutama guru. Jika tulisan guru baik, guru berbicara sopan santun, tingkah laku yang terpuji, menerangkan dengan jelas dan sistematis, maka siswa akan menirunya.  Jika contoh yang dilihat kurang baik maka ia pun akan menirunya.

 7. Aliran Latihan Mental

Aliran ini berkembang sampai dengan abad 20, yang mengemukakan bahwa struktur otak manusia terdiri atas gumpalan-gumapalan otot, agar ini kuat, maka harus dilatih dengan beban, makin banyak latihan dan beban yang makin berat,maka otot atau otak itu makin kuat pula, oleh karna itu jika anak atau siswa ingin pandai, maka ia harus dilatih otaknya dengan cara banyak berlatih memahami dan mengerjakan soal-soal yang benar, makin sukar materi itu makin pandai pula anak tersebut.

Struktur kurikulum pada masa itu berisikan materi-materi pelajaran yang sulit, sehingga orang sedikit yang bersekolah karna tidak kuat untuk mengikutinya. Di samping faktor lain seperti keturunan, biaya, dan kesadaran akan pentingya sekolah.

BERBASIS PSIKOLOGI KOGNITIF

Pendekatan psikologi kognitif lebih menekankan arti penting proses internal mental manusia. Tingkah laku manusia yang tampak, tidak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental misalnya motivasi, kesengajaan, keyakinan, dan sebagainya. Dengan kata lain, tingkah laku termasuk belajar selalu didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi di mana tingkah laku itu terjadi. Dalam situasi belajar, seseorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh insight untuk pemecahan masalah. Dengan demikian tingkah laku seseorang bergantung kepada insight terhadap hubungan-hubungan yang ada di dalam suatu situasi. Keseluruhan adalah lebih dari bagian-bagiannya dengan penekanan pada organisasi pengamatan atas stimuli di dalam lingkungan serta pada faktor-faktor yang mempengaruhi pengamatan.

Setiap orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan di dalam dirinya. Pengalaman dan pengetahuan ini tertata dalam bentuk struktur kognitif. Menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan baik bila materi pelajaran yang baru beradaptasi (bersinambung) secara tepat dan serasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa. Jadi, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan sepotong-sepotong atau terpisah-pisah, melainkan melalui proses yang mengalir, bersambung-sambung dan menyeluruh. Misalnya : ketika seseorang membaca suatu bahan bacaan, maka yang dibacanya bukan huruf-huruf yang terpisah-pisah, melainkan kata, kalimat, atau paragraf yang kesemuanya seolah menjadi satu, mengalir, dan menyerbu secara total bersamaan.

Psikologi kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar gestalt. Peletak dasar teori gestalt adalah Max Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Sumbangannya diikuti oleh Koffka (1886-1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan, kemudian Wolfgang Kohler (1887-1959) yang meneliti tentang insight pada simpanse. Penelitian-penelitian ini menumbuhkan psikologi gestalt yang menekankan bahasan pada masalah konfigurasi, struktur, dan pemetaan dalam pengalaman.

Konsep penting dalam psikologi gestalt adalah insight yaitu pengamatan atau pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Insight ini sering dihubungkan dengan pernyataan aha.

 Dalam prakteknya, teori ini antara lain terwujud dalam pandangan Piaget mengenai tahap-tahap perkembangan, dalam pandangan Ausubel mengenai belajar bermakna, dan pandangan Jerome Bruner mengenai belajar penemuan secara bebas (free discovery learning).

Aliran Psikologi Kognitif Menurut Para Ahli

1. Piaget

Menurut Jean Piaget, proses belajar sesungguhnya terdiri dari 3 tahapan, yaitu asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi (penyeimbangan). Proses asimilasi adalah proses penyatuan atau pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif yang telah ada ke dalam benak siswa. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif pada situasi yang baru. Equilibrasi adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Misalnya seorang siswa telah memiliki pengetahuan tentang baik dan buruk. Kemudian gurunya memberi pelajaran baru tentang perbuatan baik dan buruk menurut Pancasila. Maka proses penyesuaian materi baru terhadap materi pengetahuan yang sudah dimiliki siswa itu disebut asimilasi.

Jika proses ini dibalik, yaitu pengetahuan si mahasiswa disesuaikan dengan materi baru, maka proses ini disebut sebagai akomodasi. Selama proses asimilasi dan akomodasi berlangsung, diyakini ada perubahan struktur kognitif dalam diri siswa. Proses perubahan ini suatu saat berhenti. Untuk mencapai saat berhenti dibutuhkan proses equilibrasi (penyeimbangan). Jika proses equilibrasi ini berhasil dengan baik, maka terbentuklah struktur kognitif yang baru dalam diri siswa berupa penyatuan yang harmonis antara pengetahuan lama dengan pengetahuan baru.

Seseorang yang mempunyai kemampuan equilibrasi yang baik akan mampu menata berbagai informasi ke dalam urutan yang baik, jernih, dan logis. Sedangkan seseorang yang tidak memiliki kemampuan equilibrasi yang baik akan cenderung memiliki alur fikir yang ruwet, tidak logis, dan berbelit-belit.

Di samping itu, Piaget berpandangan bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa. Dalam hal ini Piaget membagi menjadi 4 tahap, yaitu :

1.  Tahap sensori motor (0 tahun sampai 1,5 tahun atau 2 tahun)

Pada tahap ini tingkah laku inteligen individu dalam bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi stimulasi sensorik. Anak belum mempunyai konsep tentang objek secara tetap, namun hanya mengetahui hal-hal yang ditangkap melalui inderanya.

2.  Tahap praoperasional  (2 atau 3 tahun sampai 7 atau 8 tahun)

Pada tahap ini reaksi anak terhadap stimulus sudah berupa aktivitas internal. Anak telah memiliki penguasaan bahasa yang sistematis, permainan simbolis, imitasi, serta bayangan dalam mental.  Anak sudah mampu menirukan tingkah laku yang dilihatnya sehari atau sehari sebelumnya, serta dapat mengadakan antisipasi.  Akan tetapi pada masa ini pola berfikir anak masih egosentrik, cara berfikirnya memusat (hanya mampu memusatkan pikiran pada 1 dimensi saja), dan berfikirnya tidak dapat dibalik.

3.  Stadium Operasional Kongkrit (7 atau 8 tahun sampai 12 atau 14 tahun)

Cara berfikir egosentris semakin berkurang dan anak sudah mampu berfikir multi dimensi dalam waktu seketika dan mampu menghubungkan beberapa dimensi itu. Di samping itu, anak sudah mampu memperhatikan aspek dinamis dalam berfikir, dan mampu berfikir secara  reversible (dapat dibalik).

4.  Stadium Operasional Formal

Cara berfikir seseorang tidak terikat, sudah terlepas dari tempat dan waktu. Bila dihadapkan pada masalah seseorang sudah mampu memikirkan secara teoritik dan menganalisa dengan penyelesaian hipotetis yang mungkin ada. Disamping itu, individu juga sudah mampu melakukan matriks kombinasi atas berbagai kemungkinan pemecahan masalah dan kemudian melakukan pengujian hipotesis atas kemungkinan-kemungkinan jawaban tersebut.

 Implikasi pandangan Piaget dalam praktek pembelajaran adalah bahwa guru hendaknya menyesuaikan proses pembelajaran yang dilakukan dengan tahapan-tahapan kognitif yang dimiliki anak didik. Karena tanpa penyesuaian proses pembelajaran dengan perkembangan kognitifnya, guru maupun siswa akan mendapatkan kesulitan dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Misalnya mengajarkan konsep-konsep abstrak tentang Pancasila kepada siswa kelas dua SD, tanpa ada usaha untuk mengkongkretkan konsep-konsep tersebut tidak hanya percuma, akan tetapi justru semakin membingungkan siswa dalam memahami konsep yang diajarkan.

Secara umum, pengaplikasian teori Piaget biasanya mengikuti pola sebagai berikut :

  1. Menentukan tujuan-tujuan instruksional
  2. Memilih materi pelajaran
  3. Menentukan topik-topik yang mungkin dipelajari secara aktif oleh siswa
  4. Menentukan dan merancang kegiatan kegiatan belajar yang cocok untuk topik-topik yang akan dipelajari siswa.(Kegiatan belajar ini biasanya berbentuk eksperimentasi, problem solving, role play, dan sebagainya)
  5. Mempersiapkan berbagai pertanyaan yang dapat memacu kreativitas siswa untuk berdiskusi maupun bertanya
  6. Mengevaluasi proses dan hasil belajar.

 2. Bruner

Menurut Bruner proses belajar lebih ditentukan oleh cara kita mengatur materi pelajaran dan bukan ditentukan oleh umur seseorang seperti yang telah dikemukakan oleh Piaget. Adapun proses belajar terjadi melalui tahap-tahap :

a)      Enaktif, berupa aktivitas siswa untuk memahami lingkungan melalui pengalaman langsung suatu realitas.

b)      Ikonik, berupa upaya siswa melihat dunia melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal.

c). Simbolik, berupa pemahaman siswa terhadap gagasan-agasan abstrak berupa teori-teori, penafsiran, analisis, dan sebagainya terhadap realitas yang telah diamati atau dialami.

Dalam aplikasi praktisnya teori belajar ini sangat membebaskan siswa untuk belajar sendiri. Oleh karena itu teori belajar  ini sering dianggap bersifat discovery (belajar dengan cara menemukan). Di samping itu, karena teori ini banyak menuntut pengulangan-pengulangan sehingga desain yang berulang-ulang tersebut disebut sebagai kurikulum spiral Bruner. Kurikulum spiral ini menuntut guru untuk memberi materi perkuliahan setahap demi setahap dari yang sederhana sampai yang kompleks di mana suatu materi yang sebelumnya sudah diberikan suatu saat muncul kembali secara terintegrasi dalam suatu materi baru yang lebih kompleks. Demikian seterusnya berulang-ulang sehingga tak terasa mahasiswa telah mempelajari suatu ilmu pengetahuan secara utuh.

Secara umum, teori Bruner ini bila diaplikasikan biasanya mengikuti pola sebagai berikut :

  1. menentukan tujuan-tujuan instruksional
  2. memilih materi pelajaran
  3. menentukan topik-topik yang mungkin dipelajari secara induktif oleh siswa.
  4. Mencari contoh-contoh, tugas, ilustrasi, dan sebagainya yang dapat digunakan mahasiswa untuk belajar.
  5. Mengatur topik-topik pelajaran sedemikian rupa sehingga urutan topik itu bergerak dari yang paling kongkrit ke yang abstrak, dari yang sederhana ke kompleks, dari tahapan-tahapam enaktif, ikonik, sampai ke tahap simbolik dan seterusnya.
  6. Mengevaluasi proses dan hasil belajar.

 3. Teori Gestalt

Tokoh aliran ini adalah John Dewey, ia mengemukakan bahwa kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan oleh guru harus memperhatikan hal-hal berikut :

  1. Penyajian konsep harus lebih mengutamakan pengertian
  2. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar harus memperhatikan kesiapan intelektual peserta didik
  3. Mengatur suasana kelas agar peserta didik siap belajar.

Dalam penyajian pelajaran guru jangan memberikan konsep yang harus diterima begitu saja, melainkan harus lebih mementingkan pemahaman terhadap terbentuknya konsep tersebut daripada hasil akhir. Untuk hal ini guru bertindak sebagai pembimbing dan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan proses melalui metode induktif.

Pendekatan dan metode yang digunakan harus disesuaikan dengan kesiapan intelektual peserta didik. Peserta didik di tingkat SMP masih ada pada tahap operasi konkret, artinya jika ia akan memahami konsep abstrak matematika harus dibantu dengan menggunakan benda konkret. Oleh karena itu dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar mulailah dengan menyajikan contoh-contoh konkret yang beraneka ragam, kemudian mengarahkan kepada konsep abstrak tersebut. Dengan cara ini diharapkan kegiatan belajar mengajar bisa berjalan secara bermakna.

Faktor eksternal bisa mempengaruh pelaksanaan belajar dan hasil elajar peserta didik. Oleh karena itu sebelum, selama dan sesudah mengajar guru harus pandai-pandai (berusaha) untuk menciptakan kondisi agar peserta didik siap untuk belajar dengan perasaan senang, tidak merasa terpaksa.

 4. Teori Brownell

W. Brownel mengemukakan bahwa belajar matematika harus merupakan belajar bermakna dan belajar pengertian. Dia mengeaskan bahwa belajar pada hakikatnya merupakan suatu proses yang bermakna. Teori Brownel sesuai dengan teori belajar mengajar Gestal yang menyatakan bahwa latihan hafal atau yang dikenal dengan sebutan drill adalah sangat penting dalam kegiatan pengajaran. Cara ini ditetapkan setelah tertanamnya pengertian.

5. Teori Dienes

Zoltan P. Dienes adalah seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap anak-anak. Dasar teorinya bertumpu pada teori Piaget, dan pengembangannya diorientasikan pada anak- anak, sehingga sistem yang  dikembangkannya  itu  menarik  bagi  anak  yang mempelajari matematika.

Dienes berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai  pelajaran tentang struktur, klasifikasi tentang struktur,relasi-relasi dalam  struktur  dan  mengkategorikan  hubungan-hubungan  di  antara  struktur- struktur.  Ia  meyakini bahwa  setiap konsep atau prinsip dalam matematika akan dapat dipahami  secara  penuh  konsep  tersebut,apabila  disajikan  dalam bentuk  kongkrit dengan berbagai  macam sajian. Ini  mengandung arti bahwa benda-benda atau objek-objek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika.

Dienes membagi 6 tahapan secara berurutan dalam menyajikan konsep matematika, yaitu sebagai berikut.

a.   Tahap Bermain Bebas

Tahap bermain bebas merupakan tahap belajar konsep yang aktivitasnya tidak diarahkan. Pada kegiatan ini, memungkinkan anak untuk mengadakan percobaan dan   mengotak-atik (memanipulasi) benda-benda kongkrit dari unsur-unsur yang sedang dipelajarinya.

Pada  tahap  permainan  bebas  anak-anak  berhadapan  dengan  unsur- unsur dalam interaksinya dengan lingkungan belajar atau alam sekitar. Dalam tahap  ini  juga  anak  tidak hanya belajar membentuk struktur mental, namun juga belajar membentuk struktur   sikap dan mempersiapkan diri dalam pemahaman konsep.

 b.   Tahap Permainan

Dalam permainan yang disertai aturan, anak-anak sudah mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu. Keteraturan ini mungkin  terdapat  dalam  konsep  tertentu  tetapi  tidak  terdapat  dalam  konsep yang lainnya. Anak yang telah memahami aturan-aturan yang terdapat dalam konsep akan dapat mulai melakukan permainan tadi. Jelaslah, dengan melalui permainan        anak-anak diajak untuk mulai mengenal dan            memikirkan bagaimana struktur matematika.

Makin  banyak  bentuk-bentuk  yang  berlainan  yang  diberikan  dalam konsep-konsep tertentu, maka akan semakin jelas konsep yang dipahami anak. Karena anak-anak akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajarinya itu.

 c.   Tahap Penelaahan Kesamaan Sifat

Pada tahap ini, anak-anak mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat  kesamaan  dalam  permainan  yang  sedang  diikuti.  Untuk  melatih anak-anak  dalam  mencari  kesamaan  sifat,  guru  perlu  mengarahkan  mereka dengan  mentranslasikan  kesamaan  struktur  dari  bentuk  permainan  yang  satu ke bentuk permainan lainnya. Translasi tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula.

 d.   Tahap Representasi

Tahap  representasi  adalah  tahap  pengambilan  kesamaan  sifat  dari beberapa   situasi   yang   sejenis.   Anak-anak   menentukan   representasi   dari konsep-konsep  tertentu,  setelah  mereka  berhasil  menyimpulkan  kesamaan sifat yang terdapat dalam situasi-situasi yang dihadapinya. Representasi yang diperolehnya ini bersifat abstrak. Dengan demikian anak-anak telah mengarah pada  pengertian  struktur  matematika  yang  sifatnya  abstrak  yang  terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari.

 e. Tahap Simbolisasi

Tahap simbolisasi termasuk tahap belajar konsep, yang membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol-simbol matematika atau melalui perumusan verbal.

 f.  Tahap Formalisasi

Tahap  formalisasi  merupakan  tahap  belajar  konsep  yang  terakhir. Dalam tahap ini anak-anak dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan  sifat-sifat baru  dari konsep tersebut. Sebagai contoh, anak-anak yang telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma,   harus   mampu   merumuskan   teorema,   dalam   arti   membuktikan teorema tersebut.

6. Teori Van Hiele

Van Hiele adalah seorang guru matematika bangsa Belanda yang mengadakan  penelitian  dalam  pengajaran  geometri  Menurut  Van  Hiele,  ada tiga unsur utama dalam pengajaran geometri, yaitu waktu, materi pengajaran, dan  metode  pengajaran  yang diterapkan. Jika ketiga unsur ditata secara terpadu, akan dapat meningkatkan kemampuan berfikir anak kepada tahapan berfikir yang lebih tinggi. Van Hiele  menyatakan  bahwa  terdapat  5  tahap  belajar  anak  dalam belajar geometri, yaitu : tahap pengenalan, tahap analisis, tahap pengurutan, tahap deduksi dan tahap akurasi yang akan diuraikan sebagai berikut.

 a.   Tahap Pengenalan (Visualisasi)

Pada tahap ini anak mulai belajar mengenal suatu bentuk geometri secara  keseluruhan,  namun  belum  mampu  mengetahui  adanya  sifat-sifat dari bentuk geometri  yang dilihatnya itu. Sebagai contoh, jika pada anak diperlihatkan  sebuah  kubus,  maka  ia  belum  mengetahui  sifat-sifat  atau keteraturan yang dimiliki oleh kubus tersebut. Ia belum tahu bahwa kubus mempunyai   sisi-sisi   yang   merupakan   bujursangkar, anak pun belum mengetahui bahwa bujursangkar (persegi) keempat sisinya sama dan ke empat sudutnya siku-siku.

 b.   Tahap analisis

Pada tahap ini anak sudah mulai mengenal sifat-sifat yang dimiliki bangun   Geometri   yang   diamatinya.   Ia   sudah   mampu   menyebutkan keteraturan yang terdapat pada bangun Geometri itu. Misalnya pada saat ia mengamati persegi panjang, ia telah mengetahui bahwa terdapat 2 pasang sisi  yang berhadapan, dan kedua  pasang sisi tersebut saling sejajar.  Tapi tahap  ini  anak  belum  mampu  mengetahui  hubungan  yang  terkait  antara suatu  benda  geometri  dengan  benda  geometri lainnya. Misalnya anak belum mengetahui bahwa persegi adalah persegipanjang atau ,persegi itu adalah belah ketupat dan sebagainya.

 c.   Tahap Pengurutan (Deduksi Informal)

Pada tahap ini anak sudah mulai mampu melaksanakan penarikan kesimpulan  yang  kita  kenal  dengan  sebutan  berpikir  deduktif.  Namun kemampuan  ini  belum  berkembang  secara  penuh.  Satu  hal  yang  perlu diketahui adalah,  anak pada tahap ini sudah mulai mampu mengurutkan. Misalnya ia sudah mengenali bahwa persegi adalah jajaran genjang, bahwa belah  ketupat  adalah  layang-layang.  Demikian  pula  dalam  pengenalan benda-benda ruang, anak-anak memahami bahwa kubus adalah balok juga, dengan keistimewaannya, yaitu bahwa semua sisinya berbentuk persegi . Pola pikir anak pada tahap ini masih belum mampu menerangkan mengapa diagonal suatu persegi panjang itu sama panjangnya. Anak mungkin belum memahami  bahwa  belah  ketupat  dapat  dibentuk  dari  dua  segitiga  yang kongruen.

 d.   Tahap Deduksi

Dalam  tahap  ini  anak  sudah  mampu  menarik  kesimpulan  secara deduktif,  yaitu  penarikan  kesimpulan  dari  hal-hal  yang  bersifat  umum menuju  hal-hal  yang  bersifat  khusus.  Demikian  pula  ia  telah  mengerti betapa   pentingnya   peranan   unsur-unsur   yang   tidak   didefinisikan,   di samping  unsur-unsur   yang  didefinisikan.  Misalnya  anak  sudah  mulai memahami  dalil.  Selain  itu,  pada  tahap  ini  anak  sudah  mulai  mampu menggunakan  aksioma  atau  postulat  yang  digunakan  dalam  pembuktian. Tetapi  anak  belum  mengerti  mengapa  sesuatu  itu  dijadikan  postulat  atau dalil

 e.   Tahap Akurasi

Dalam  tahap  ini  anak  sudah  mulai  menyadari  betapa  pentingnya ketepatan  dari  prinsip-prinsip  dasar  yang  melandasi  suatu  pembuktian. Misalnya,   ia   mengetahui   pentingnya   aksioma-aksioma   atau   postulat- postulat  dari  geometri  Euclid.  Tahap  akurasi  merupakan  tahap  berfikir yang tinggi, rumit dan kompleks. Oleh karena itu tidak mengherankan jika tidak semua anak, meskipun sudah duduk di bangku sekolah lanjutan atas, masih belum sampai pada tahap berfikir ini.

DAFTAR PUSTAKA

 Djaali. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara

 Suherman, Erman, dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia

 Syah, Muhibbin. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Rajagrapindo Persada

 Sri Esti Wuryani Djiwandono. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Gramedia

 Suryabrata, Sumadi. 2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rajawali Pers

 Wasty Soemanto. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta

Klik di sini untuk DOWNLOAD PSIKOLOGI TINGKAH LAKU VS PSIKOLOG KOGNITIF

Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.

One thought on “Psikologi Tingkah Laku VS Psikologi Kognitif

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Dunia Psikolog, menurut saya bidang studi Psikologi merupakan bidang studi yang sangat menarik
    juga banyak hal yang bisa dipelajari di dunia Psikologi.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis
    mengenai bidang Psikologi yang bisa anda kunjungi di halaman ini, selamat berbagi 🙂

Add Comment