BolehSAJA.net

14 Aug 2014

Pembelajaran Matematika

Posted on: No Comments

Oleh:

Ade Susanti, M.Pd*

Pembelajaran merupakan aspek kegiatan manusia yang kompleks, yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan. Trianto (2010:17) mengemukakan bahwa “pembelajaran secara simpel dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup”. Secara lebih kompleks pembelajaran hakekatnya adalah “usaha sadar dari seorang guru/dosen untuk membelajarkan siswanya/mahasiswa (mengarahkan interaksi mahasiswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan”. Menurut Muliyardi (2002:2) “Pembelajaran merupakan suatu upaya menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa/mahasiswa dapat belajar”. Dalam hubungannya dengan pembelajaran matematika, Nikson (dalam Muliyardi, 2002:2) mengemukakan bahwa pembelajaran matematika adalah upaya membantu siswa (mahasiswa) untuk mengkontruksikan konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep atau prinsip itu terbangun kembali.

Istilah pembelajaran agaknya berkaitan dengan istilah mengajar, namun menurut Depdiknas (2005:7) pembelajaran matematika tidak sama maknanya dengan mengajar matematika. Ahli psikologi dan pendidikan memberikan rumusan yang berbeda-beda tentang pengertian mengajar. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan titik pandang terhadap makna mengajar. Pandangan pertama melihatnya dari segi pelakunya, yaitu pengajarnya. Menurut pandangan ini mengajar diartikan menyampaikan pengetahuan (bahan ajar) kepada siswa/mahasiswa.

Kritikan yang paling banyak dilontarkan terhadap rumusan mengajar adalah siswa (mahasiswa) dianggap sebagai objek, bukan subjek. Mahasiswa hanya pasif menerima, sebaliknya peran guru (dosen) sangat menentukan. Pandangan ini disebut berpusat pada guru/dosen (teacher centered).

Atas dasar kritikan ini, muncul pemikiran yang melihat mengajar bukan dari sudut pelaku yang mengajar, tetapi dari sudut siswa (mahasiswa) yang belajar. Menurut Mouly (Depdiknas, 2005:6) belajar pada hakekatnya adalah proses perubahan tingkah laku seseorang berkat adanya pengalaman. Bertolak dari hakekat belajar, maka mengajar dirumuskan dalam beberapa batasan yang intinya memberikan tekanan kepada kegiatan optimal yang dilakukan siswa (mahasiswa) dalam belajar. Batasan mengajar yang bertolak dari batasan pertama, dapat dirumuskan sebagai berikut: mengajar adalah membimbing kegiatan siswa (mahasiswa) belajar. Mengajar adalah mengatur dan mengorganisasikan lingkungan yang ada di sekitar siswa (mahasiswa), sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan minat siswa (mahasiswa) melakukan kegiatan belajar.

Paradigma baru memandang siswa (mahasiswa) bukan sebagai objek, tetapi sebagai subjek dalam pembelajaran matematika. Konsep matematika tidak dipandang sebagai barang jadi yang hanya menjadi bahan informasi untuk siswa (mahasiswa). Namun, guru (dosen) diharapkan merancang pembelajaran matematika sehingga memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa (mahasiswa) untuk berperan aktif dalam membangun konsep secara mandiri atau bersama-sama.

Mahasiswa diharapkan dapat “menemukan kembali” (reinvention) akan konsep, aturan, ataupun algoritma. Algoritma dalam matematika yang dahulu diberikan begitu saja untuk menambah pengetahuan, sekarang selain untuk itu, siswa (mahasiswa) diberikan kesempatan untuk menemukan sendiri algoritma tersebut, dan tidak menutup kemungkinan siswa (mahasiswa) menemukan cara lain yang belum diketahui oleh guru (dosen). Pembelajaran matematika yang demikian, akan dapat menimbulkan rasa bangga pada diri siswa (mahasiswa), menumbuhkan minat, rasa percaya diri, memupuk dan mengembangkan imajinasi dan daya cipta (kreativitas).

Pembelajaran matematika dapat disimpulkan sebagai suatu proses yang diselenggarakan untuk membelajarkan peserta didik guna memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan matematika. Suatu proses pembelajaran yang dimaksud adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan situasi agar peserta didik belajar secara efektif dan efesien sehingga tujuan pembelajaran matematika yang diharapkan dapat tercapai.

Ade Susanti, M.Pd dosen program studi Matematika STKIP YPM Bangko

Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.

More About: Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.
View More Posts By Jen Kelana
Posted on: 14/08/2014 | Tags: , , , , |

Leave a Reply


Slideshow

Boleh Arsip

Mungkin sahabat ingin juga membaca:close