Pemahaman Konsep Matematis

Oleh:

M. Jainuri, M.Pd

 

A.      Kemampuan Awal Matematika

Kemampuan awal matematika merupakan kemampuan yang dapat menjadi dasar untuk menerima pengetahuan baru. Kemampuan awal matematika merupakan pondasi dan dasar pijakan untuk pembentukan konsep baru dalam pembelajaran. Suatu proses pembelajaran dapat dikatakan bermakna jika seorang mahasiswa telah dapat mengaitkan konsep-konsep yang ada dalam benaknya dengan baik. Dari proses pertalian itu, ditemukanlah suatu pengetahuan baru yang dapat digunakan dalam kehidupannya.

Ausubel (dalam Depdiknas: 2006) menyatakan bahwa pengetahuan yang sudah dimiliki mahasiswa akan sangat menentukan bermakna tidaknya suatu proses pembelajaran. Itulah sebabnya para dosen harus mengecek, memperbaiki dan menyempurnakan pengetahuan para mahasiswa sebelum membahas materi baru.

Dari keterangan tersebut, dapat diketahui bahwa kemampuan awal matematika merupakan salah satu faktor yang menentukan sukses atau gagalnya siswa belajar. Pemahaman materi yang menjadi dasar kemampuan awal dalam pemahaman konsep pada materi berikutnya yang berhubungan. Siswa diarahkan belajar melalui suatu proses yang berangsur-angsur secara bertahap dari konsep yang sederhana hingga ke pengertian yang lebih kompleks. Sampai akhirnya siswa tersebut mengerti, memahami, menguasai dan mampu mengaplikasikannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.

 B.       Pemahaman Konsep

Pembelajaran dengan pemahaman konsep sering menjadi bahan kajian yang sangat luas dan mendalam dalam penelitian pendidikan. Dahar (1988:95) menyatakan bahwa belajar konsep merupakan hasil utama pendidikan.  Kemampuan memahami konsep menjadi landasan untuk berpikir dan menyelesaikan masalah atau persoalan. Konsep-konsep itu akan melahirkan teorema atau rumus. Agar konsep-konsep atau teorema-teorema dapat diaplikasikan ke situasi yang lain, perlu adanya keterampilan menggunakan konsep-konsep atau teorema-teorema tersebut.

Langkah-langkah dalam menanamkan suatu konsep berdasarkan penggabungan beberapa teori belajar Bruner menurut Hudoyo (2003:123) antara lain teori konstruksi, teori notasi, teori kekontrasan dan variasi serta teori konektivitas adalah sebagai berikut ini.

  1. Pengajar memberikan pengalaman belajar berupa contoh-contoh yang berhubungan dengan suatu konsep matematika dari berbagai bentuk yang sesuai dengan struktur kognitif peserta didik.
  2. Peserta didik diberikan dua atau tiga contoh lagi dengan bentuk pertanyaan.
  3. Peserta didik diminta memberikan contoh-contoh sendiri tentang suatu konsep sehingga dapat diketahui apakah peserta didik sudah mengetahui dan memahami konsep tersebut.
  4. Peserta didik mencoba mendefinisikan konsep tersebut dengan bahasanya sendiri.
  5. Peserta didik diberikan lagi contoh mengenai konsep dan bukan konsep.
  6. Peserta didik diberikan drill untuk memperkuat konsep tersebut.

Konsep-konsep merupakan pilar-pilar pembangun untuk berpikir yang lebih tinggi. Dengan mengenal konsep dan struktur yang tercakup dalam bahan yang sedang dibicarakan, mahasiswa akan memahami materi yang harus dikuasainya itu, ini menunjukkan bahwa materi yang mempunyai pola atau struktur tertentu akan lebih mudah dipahami dan diingatnya (Erman dkk., 2003:43).

Menurut Depdiknas (Fadjar, 2009:13),  indikator kemampuan pemahaman konsep sebagai berikut:

  1. menyatakan ulang sebuah konsep;
  2. mengklasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan konsepnya);
  3. memberi contoh dan non contoh dari konsep;
  4. menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis;
  5. mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari konsep;
  6. menggunakan prosedur atau operasi tertentu;
  7. mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah.

C.      Pengembangan Instrumen Pemahaman Konsep

Instrumen soal-soal tes pemahaman konsep ditulis berdasarkan kisi-kisi butir soal yang telah disusun terlebih dahulu dengan indikator, kompetensi dasar, dan materi.  Untuk mendapatkan instrumen tes yang benar–benar valid atau dapat diandalkan dalam mengungkapkan data penelitian, maka instrumen tes tersebut disusun dengan langkah–langkah sebagi berikut ini.

  1. Membuat kisi–kisi soal yang di dalamnya menguraikan indikator pemahaman konsep matematis.
  2. Berdasarkan kisi–kisi tersebut selanjutnya adalah menyusun butir-butir soal.
  3. Setelah butir–butir soal dibuat, kemudian dilakukan validasi oleh pakar (expert) dengan maksud untuk mengetahui tingkat kebaikan isi, konstruk, dan redaksi sesuai dengan aspek yang diungkap.
  4. Melakukan uji coba pada responden untuk mengetahui keberadaan instrumen secara empirik, yaitu untuk mengetahui validitas butir, indeks kesukaran, daya pembeda soal dan reliabilitas soal tersebut.

 Kriteria penilaian untuk setiap butir soal tes pemahaman konsep mengacu pada indikator. Kriteria penilaian untuk setiap butir soal tes pemahaman konsep menggunkan rubrik holistik. Menurut Fauzan (2011) rubrik holistik adalah pedoman untuk menilai berdasarkan kesan keseluruhan atau kombinasi semua kriteria.

 Tabel. Rubrik Penskoran Pemahaman Konsep

No

Mengklasifikasikan obyek menurut sifat-sifat tertentu

Menyajikan  konsep ke bentuk representasi matematis

Menggunakan prosedur atau operasi tertentu

Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah

 

 

 

 

0

Tidak ada pengklasifikasian obyek Tidak ada penyajian konsep Tidak ada prosedur operasi Tidak ada algoritma pemecahan masalah

1

Ada pengklasifikasian obyek namun salah Penyajian konsep ada namun salah Prosedur operasi namun salah Algoritma  pemecahan masalah ada namun salah

2

Pengklasifikasian obyek kurang lengkap Penyajian konsep kurang lengkap Prosedur operasi kurang lengkap Algoritma  pemecahan masalah kurang lengkap

3

Pengklasifikasian obyek benar kurang lengkap Penyajian konsep benar namun kurang lengkap Prosedur operasi benar namun kurang lengkap Algoritma  pemecahan masalah benar  kurang lengkap

4

Pengklasifikasian obyek lengkap dan benar Penyajian konsep lengkap dan benar. Prosedur operasi lengkap dan benar Algoritma  pemecahan masalah lengkap dan benar.

Skor

Maksimal

4

Skor Maksimal

4

Skor Maksimal

4

Skor Maksimal

4

Sumber: Modifikasi dari Fauzan (2011)

 

Referensi:

Depdiknas. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Jakarta: Depdiknas.

Dahar, Ratna Wilis. 1988. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Depdikbud

 Erman, Suherman, dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung : JICA-universitas Pendidikan Indonesia.

 Fadjar, Shadiq. 2009. Diklat Instruktur Pengembang Matematika SMA Jenjang Lanjut. Kemahiran Matematika. Yogyakarta : Departemen Pendidikan Nasional

Fauzan, Ahmad. 2011. Modul 1 Evaluasi Pembelajaran Matematika: Pemecahan Masalah Matematika. Evaluasimatematika.net: UNP.

Hudojo, Herman dkk. 2003. Stategi Belajar Mengajar Matematika Kontemporer. Malang: Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang.

Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.

2 thoughts on “Pemahaman Konsep Matematis

  1. dompet kulit ikan pari asli

    - Edit

    Reply

    menarik untuk dibaca dan diresapi makna dan kualitas dari artikel ini, trimakasih sudah saling berbagi.

Add Comment