Korelasi Sikap dan Minat dengan Motivasi Belajar Statistika Inferensial Mahasiswa Pendidikan Matematika

M. Jainuri, S.Pd., M.Pd

 

Abstract

 Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan mendeskripsikan hubungan sikap dan minat dengan motivasi belajar statistic inferensial mahasiswa pendidikan matematika STKIP YPM Bangko. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Sampel diambil dengan teknik total sampling dengan jumlah sampel 48 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan angket untuk variabel sikap dan motivasi serta observasi untuk variabel minat belajar. Uji syarat instrument menggunakan rumus Pearson Product-Moment untuk uji validitas dan rumus Alpha Cronbach untuk uji reliabilitas. Teknik analisis data dan pengujian hipotesis menggunakan rumus korelasi Kendall Tau.

Perhitungan dibantu dengan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows. Hasil analisis data dalam penelitian menunjukkan bahwa korelasi antara sikap (X1) dengan Motivasi (Y) berdasarkan output SPSS yaitu diketahui koefisien korelasinya adalah 0,317 dengan kontribusi sebesar 10,05% dan sig = 0,002, korelasi Minat (X2) dengan Motivasi (Y) sebesar 0,293 dengan kontribusi 8,58% dan nilai sig = 0,004, serta untuk korelasi Sikap (X1) dengan Minat (X2) diketahui koefisien korelasi sebesar 0,357 dengan kontribusi 12,74% dan nilai sig = 0,000. Pada taraf nyata (α) 5% diketahui bahwa semua koefisien korelasi lebih besar dari rtabel yaitu 0,284, dan semua nilai sig > α, maka Ho ditolak. Dapat disimpulkan terdapat korelasi yang signifikan antara sikap, minat dengan motivasi belajar statistika inferensial mahasiswa pendidikan matematika STKIP YPM Bangko tahun 2014. 

Kata Kunci: Korelasi, sikap, minat, motivasi belajar..

PENDAHULUAN

Salah satu komponen yang harus dikuasai oleh mahasiswa dalam kegiatan penelitian ilmiah adalah penguasaan fakta empiris dan angka-angka yang terkait dengan obyek yang diteliti dan metodologi yang akan digunakan dalam penelitian. Dalam hal ini ilmu statistik memegang peranan penting. Bertolak dari alasan tersebut, STKIP YPM Bangko khususnya Program Studi Pendidikan Matematika menjadikan statistik inferensial sebagai mata kuliah wajib bagi mahasiswa dengan tujuan dapat dimanfaatkan pada penelitian ilmiah baik dalam menyelesaikan tugas akhir skripsi atau penelitian-penelitian lain. Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan Sudijono (2009:VIII) bahwa pengajaran statistik untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan statistik yang dipandang perlu dan relevan untuk dimiliki oleh seorang peneliti (research worker) di bidang pendidikan, seorang pendidik dan seorang administrator di bidang kependidikan.

Mengingat peranan statistik yang sangat penting, maka mahasiswa harus mengikuti perkuliahan dengan sungguh-sungguh. Bukan hanya sekedar dating kuliah saja, tetapi harus ditanamkan niat untuk benar-benar belajar memahami konsep-konsep statistik, dapat melakukan analisis menggunakan rumus-rumus, sekaligus mampu menerapkan dalam penelitian maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Guilford (dalam Aima, 2006:1) ada empat alasan yang mendasar bagi mahasiswa untuk mempelajari statistik: 1) mahasiswa harus mampu membaca literatur-literatur profesional, 2) mahasiswa harus mampu untuk menyusun cara-cara kuliah tingkat tinggi, 3) statitik merupakan bagian esensial dari latihan professional, dan 4) statistik merupakan landasan dari kegiatan-kegiatan riset/penelitian.

Khusus untuk keperluan-keperluan riset/penelitian ilmiah, selanjutnya Guilford mengemukakan bahwa statistik mempunyai fungsi dan peran sebagai berikut: 1) statistik memungkin pencatatan paling eksak data penyelidikan, 2) statistik menyediakan cara-cara yang ringkas dalam memahami penyajian data, 3) memberi dasar-dasar untuk menarik kesimpulan melalui proses yang dapat diterima oleh ilmu pengetahuan, 4) memberi landasan memprediksi secara ilmiah bagaimana gejala akan terjadi dalam kondisi-kondisi yang telah diketahui dan 5) statistik memungkin peneliti untuk menganalisis, menguraikan sebab akibat yang kompleks dan rumit.

Dengan demikian, peranan statistik sangat penting bagi mahasiswa baik untuk keperluan menyelesaikan tugas akhir skripsinya maupun untuk keperluan-keperluan yang lain. Sebab, dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu berhadapan dengan data, baik data yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Kedua sifat data tersebut dapat dianalisis baik secara kuantitatif, kualitatif atau gabungan di antara keduanya. Analisis data dapat dilakukan dengan menggunakan statistik tertentu, seperti statistik deskriptif dan statistik inferensial.

Statistik deskriptif ialah susunan angka yang memberikan gambaran tentang data yang disajikan dalam bentuk-bentuk tabel, diagram, histogram, poligon, ogive, ukuran penempatan (median, kuartil, desil dan persentil), ukuran gejala pusat (mean, modus, rata-rata ukur dan rata-rata harmonis), simpangan baku, angka baku, kurva normal dan sebagainya. Selain statistik deskriptif terdapat statistik inferensial (statistik induktif/statistik probabilitas) yaitu salah satu alat untuk mengumpulkan data, mengolah data, menarik kesimpulan dan membuat keputusan berdasarkan analisis data.

Berdasarkan penyajian, pengolahan, dan analisis data, statistik mempunyai peranan yang sangat penting. Baik dalam menunjang kemajuan pendidikan yang diterapkan dalam riset atau penelitian maupun dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini didasari bahwa statistik secara langsung dapat membantu kemajuan ilmu baik terapan, sosial dan teknologi. Peranan statistik yang sangat penting maka perlu diberikan perhatian yang lebih besar terhadap pengajaran statistik di sekolah–sekolah dan di perguruan tinggi.

Melalui wawancara dengan mahasiswa program studi Pendidikan Matematika, ada beberapa alasan mahasiswa kesulitan dalam mempelajari mata kuliah ini, di antaranya mahasiswa menganggap statistik inferensial adalah mata kuliah yang sulit dipahami, karena mata kuliah ini memerlukan pemahaman dan penalaran. Mahasiwa cenderung pasif dalam perkuliahan, hal ini diduga disebabkan oleh minat dan motivasi yang mempengaruhi sikap belajarnya.

Sikap belajar merupakan suatu sikap bagaimana mahasiswa melaksanakan kegiatan perkuliahan. Kualitas sikap belajar akan menentukan kualitas hasil belajar yang diperoleh. Sikap belajar yang baik akan menghasilkan hasil belajar yang baik, sebaliknya sikap belajar yang buruk akan menghasilkan hasil belajar yang kurang baik.

Dalam kaitan sikap dalam belajar Dimyati (2006:239) menyatakan bahwa sikap belajar merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian tentang sesuatu mengakibatkan terjadinya sikap menerima, menolak, merasa senang dan tidak senang dalam melakukan aktifitas belajar.

Reaksi positif atau senang dan reaksi negatif atau tidak senang yang ditunjukan oleh mahasiswa dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi ialah kemampuan dan gaya mengajar dosen, metode, pendekatan dan strategi pembelajaran yang dipergunakan, media pembelajaran, sikap dan perilaku, lingkungan kelas, manajemen kelas dan berbagai faktor lain yang turut mempengaruhi sikap mahasiswa.

Jika semua faktor tersebut memberikan pengaruhi positif kepada mahasiswa, maka sikap yang terbentuk pada diri majasiswa ialah sikap belajar yang baik, yaitu mahasiswa merasa senang dalam mengikuti proses perkuliahan. Sebaliknya jika semua faktor tersebut memberikan pengaruhi negatif, maka sikap yang terbentuk pada diri mahasiswa ialah sikap belajar yang tidak baik yaitu mahasiswa merasa tidak senang dalam mengikuti perkuliahan. Selain itu faktor minat mahasiswa mengikuti perkuliahan juga menjadi penyebab hal tersebut.

Minat erat hubungan dengan kondisi psikis seseorang, apabila kondisi psikis seseorang dalam keadaan tenang atau stabil maka minat untuk melaksanakan suatu kegiatan akan cendrung lebih tinnggi dibandingkan dengan seseorang yang kondisi psikisnya tidak tenang. Hal seperti ini juga dapat terjadi dalam proses perkuliahan. Zanikhan (2008) mengatakan bahwa minat belajar adalah aspek psikologi seseorang yang menampakkan diri dalam beberapa gejala, seperti: gairah, keinginan, perasaan suka untuk melakukan proses perubahan tingkah laku melalui berbagai kegiatan yang meliputi mencari pengetahuan dan pengalaman. Minat merupakan rasa ketertarikan mahasiswa untuk mengikuti proses perkuliahan. Mahasiswa yang memiliki motivasi belajar akan memiliki minat belajar yang relatif tinggi. Hal ini tergantung pada aspek psikologis atau kejiwaan seseorang, aspek psikologi ini dapat dipengaruhi oleh lingkungan.

Minat belajar yang dimiliki mahasiswa dapat terlihat dari sikap yang mereka lakukan. Siswa yang memiliki minat belajar tinggi akan terlihat dari kehadirannya yang tepat waktu, tidak keluyuran pada jam kuliah, dan lain-lain sedangkan mahasiswa yang memiliki minat belajar rendah akan terlihat dari kehadirannya yang sering terlambat dan sering tidak masuk kuliah. Selain itu, tingkat kesukaran materi kuliah juga ikut mempengaruhi minat belajar mahasiswa.

Proses perkuliahan akan berjalan dengan lancar bila disertai minat karena minat merupakan alat motivasi utama yang dapat membangkitkan semangat belajar mahasiswa dalam rentang waktu tertentu (Djamarah, 2002). Motivasi belajar merupakan keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar, dan memberikan arah pada kegiatan belajar demi mencapai tujuan (Winkel, 2004). Motivasi dapat menentukan baik tidaknya mencapai tujuan sehingga semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesan yang diraih.

KAJIAN TEORITIK

Sikap belajar

Sikap merupakan suatu kecenderungan pola tingkah laku individu untuk berbuat sesuatu dengan cara tertentu terhadap orang, benda, atau gagasan. Calhoun (dalam Riyono, 2011:109) menyatakan bahwa sikap merupakan sekelompok keyakinan dan perasaan yang melekat tentang obyek tertentu dan kecenderungan untuk bertindak terhadap obyek tersebut dengan cara tertentu. Menurut Purwanto (2010:141) “sikap atau attitude adalah suatu kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap suatu perangsang atau situasi yang dihadapi, baik mengenai orang, benda-benda atau situasi-situasi yang mengenai dirinya”. Selanjutnya menurut Gerungan (dalam Hadis, 2010:37) sikap diartikan sebagai kecenderungan seseorang untuk bereaksi terhadap suatu obyek atau rangsangan tertentu.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa sikap dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan untuk bertindak berkenaan dengan suatu obyek tertentu. kecenderungan sikap seseorang ditandai dengan adanya kecenderungan sikap menerima atau menolak terhadap suatu obyek. Kaitannya dalam belajar menurut Dimyati dan Mudjiono (2009:239) adalah kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian tentang sesuatu mengakibatkan terjadinya sikap menerima, menolak, atau mengabaikan kesempatan belajar.” Implikasi dari penjelasan tersebut bahwa sikap belajar merupakan kecenderungan siswa/mahasiswa untuk merasa senang dan tidak senang dalam melakukan aktivitas belajar/kuliah. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses perkuliahan, tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Pada penelitian ini sikap belajar merupakan kecenderungan mahasiswa untuk bereaksi terhadap materi statistik inferensial. Reaksi ditunjukkan dengan kecenderungan mahasiswa untuk merasa senang dan tidak senang dalam melakukan aktivitas belajarnya dalam perkuliahan.

Lebih lanjut menurut Silverius (dalam Riyono, 2011:110), sikap belajar meliputi lima tingkat kemampuan yaitu: 1). menerima (receiving) sikap yang berhubungan dengan kesediaan atau kemauan siswa/mahasiswa untuk ikut dalam suatu fenomena atau stimulus khusus, 2). merespon (responding) sikap di mana siswa/mahasiswa tidak hanya menghadiri suatu fenomena tetapi juga bereaksi terhadapnya, 3). menilai (valuing) sikap yang berkenaan dengan nilai yang dikenakan siswa/mahasiswa terhadap sesuatu obyek atau fenomena, 4) organisasi (organization), hasil belajar pada tingkat ini berkenaan dengan organisasi suatu nilai atau merencanakan suatu pekerjaan yang memenuhi kebutuhannya.

Minat belajar

Minat secara umum dimaknai sebagai rasa tertarik yang ditunjukkan oleh seseorang pada suatu obyek. Menurut Bob dan Anwar (1983:210), mengemukakan bahwa minat adalah keadaan emosi yang ditujukan kepada sesuatu.  Sedangkan menurut Belly (2006:4), menyatakan minat adalah keinginan yang didorong oleh suatu keinginan setelah melihat, mengamati dan membandingkan serta mempertimbangkan dengan kebutuhan yang diinginkannya.

Dari kedua pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan minat ialah suatu kondisi kejiwaan seseorang untuk dapat menerima atau melakukan sesuatu obyek atau kegiatan tertentu untuk mencapai suatu tujuan.

Sementara belajar dapat dikemukakan sebagai perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman kecuali perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh proses menjadi matangnya seseorang atau perubahan yang intensif atau bersifat temporer. (Hamalik, 1983:34). Menurut Djayadisastra (1989:8), belajar pada hakekatnya adalah suatu perubahan, baik sikap maupun tingkah laku ke arah yang baik, kuantitatif dan kualitatif yang fungsinya lebih tinggi dari semula. Selanjutnya, minat dikaitkan dengan belajar mempunyai makna bahwa minat belajar adalah salah satu bentuk keaktifan seseorang yang mendorong untuk melakukan serangkaian kegiatan jiwa dan raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dalam lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Motivasi belajar

Motivasi menurut Gates, dkk (dalam Djaali, 2008:101) merupakan suatu kondisi fisiologis dan psikologis yang terdapat dalam diri seseorang yang mengatur tindakkannya dengan cara tertentu. Sementara Suryabrata (2010:70) menyatakan keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai sesuatu tujuan. Adapun Walgito (2004:220) menyebutkan bahwa motivasi merupakan keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku kea rah tujuan. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan kondisi fisiologis dan psikologis yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan tertentu.

Motivasi belajar pada dasarnya merupakan bagian dari motivasi secara umum. Dalam kegiatan belajar mengajar dikenal adanya motivasi belajar yaitu motivasi yang ada dalam dunia pendidikan atau motivasi yang dimiliki siswa/mahasiswa. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:85) motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Sementara Winkel (2005) menyatakan bahwa “motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa/mahasiswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan. Motivasi belajar memegang peranan penting dalam memberikan gairah atau semangat dalam belajar, sehingga siswa yang bermotivasi kuat memiliki energi banyak untuk melakukan kegiatan belajar”. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut apat dikemukakan bahwa motivasi belajar adalah suatu penggerak yang timbul dari kekuatan mental diri siswa/mahasiswa maupun menciptakan suatu rangkaian usaha untuk mempersiapkan kondisi tertentu yang mengarahkan pada kegiatan belajar sehingga tujuannya dapat tercapai.

Statistik parametrik

Menurut Sugiyanta (2005:4) statistik inferensial/induktif adalah statistik yang berkenaan dengan cara penarikan kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh dari sampel untuk menggambarkan karakteristik atau ciri dari suatu populasi. Dengan demikian dalam statistik inferensial dilakukan suatu generalisasi (memperumum) dari hal yang bersifat khusus (kecil) ke hal yang lebih luas (umum), oleh karena itu statistik inferensial disebut juga statistik induktif atau statistik penarikan kesimpulan.

Ada dua macam statistik inferensial, yaitu: statistik parametrik dan statistik nonparametrik. Statistik parametrik adalah statistik yang distribusinya ditentukan dengan tepat jika distribusi populasinya diketahui, sedangkan statistik nonparametrik adalah statistik yang distribusinya dapat ditentukan tanpa mengetahui distribusi populasinya (bebas distribusi). Di dalam statistik parametrik biasanya diperlukan asumsi-asumi antara lain yaitu bahwa populasinya harus berdistribusi normal, sehingga kesimpulan yang diambil memuat syarat kebenaran asumsi tersebut. Statistik nonparametrik asumsi tersebut diperlemah bahkan kadang-kadang tidak diperlukan. Kebanyakan dalam statistik nonparametrik bahawa sampelnya harus independen. Statistik nonparametrik dapat digunakan pada data dengan skala nominal, ordinal, interval maupun rasio.

Jenis analisis statistik parametric dalam penelitian mencakup: teknik analisis korelasi, teknik analisis regresi, teknik analisis komparatif (t-test), dan analisis komparatif (analysis of varians/anova)

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah sikap belajar (X1) dan minat (X2) sedangkan motivasi belajar statistika inferensial sebagai variabel terikat (Y). Responden penelitian adalah mahasiswa semester IV pendidikan matematika STKIP YPM Bangko yang mengontrak mata kuliah statistika inferensial tahun akademik 2013/2014 sebanyak 48 orang sebagai populasi dan sekaligus diambil sampel. Penarikan sampel menggunakan probability sampling dengan teknik total sampling. Pengumpulan data untuk variabel sikap belajar menggunakan pernyataan yang disusun dalam angket dengan skala likert empat option. Untuk memperoleh data tentang minat belajar menggunakan lembar observasi yang berisi aspek-aspek yang diamati, dan untuk mengukur motivasi belajar statistika inferensial menggunakan pernyataan yang disusun dalam angket dengan skala Likert empat option. Uji validitas terhadap pernyataan-pernyataan angket untuk variabel sikap dan motivasi belajar digunakan rumus Pearson Product–Moment dan uji reliabilitas menggunakan rumus Alpha Cronbach. Proses perhitungannya dibantu dengan software IBM SPSS Statistics 22 for Windows.

Pengujian hipotesis menggunakan rumus-rumus yang termasuk dalam kategori statistik nonparametrik, hal ini didasarkan pada tingkatan data pada variabel sikap, minat dan motivasi belajar adalah ordinal. Berdasarkan hipotesis penelitian yang dikemukakan yaitu merupakan hipotesis assosiatif maka untuk menguji dan menganalisis data-data yang terkumpul digunakan rumus korelasi Kendall Tau. Penghitungannya dibantu dengan program IBM SPSS Statistics 22 for windows.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Data hasil penelitian untuk variabel sikap, minat dan motivasi setelah melalui proses editing, coding dan tabulasi, selanjutnya data diolah menggunakan statistik deskriptif. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam proses analisis data dan pengujian hipotesis. Data dideskripsikan berdasarkan rata-rata hitung, data terendah dan tertinggi serta beradasrkan standar deviasi masing-masing variabel. Data disajikan pada table di bawah ini.

Tabel. Data Hasil Penelitian

 

Variabel Min Max Mean Standar Deviasi
Sikap 69 108 93,65 9,696
Minat 54 98 76,08 10,88
Motivasi 50 92 78,75 9,747

 

Dari tabel di atas dapat diketahui untuk variabel sikap data terendah adalah 69, data tertinggi 108, dengan rata-rata sebesar 93,65 dan standar deviasi 9,696. Variabel minat data terendah adalah 54, data tertinggi 98, dengan rata-rata sebesar 76,08 dan standar deviasi 10,88. Untuk variabel motivasi data terendah adalah 50, data tertinggi 92, dengan rata-rata sebesar 78,75 dan standar deviasi 9,747. Lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

diagram batang

Gambar. Diagram Data Hasil Penelitian

Hasil analisis uji syarat validitas instrumen pernyataan dalam angket untuk variabel sikap belajar menujukkan bahwa sebanyak 29 item dinyatakan valid dan 11 item tidak valid dari 40 item, selanjutnya untuk uji reliabilitas diketahui r11 > rtabel atau 0,937 > 0,637 dapat disimpulkan 29 item dinyatakan reliabel. Untuk variabel motivasi diketahui sebanyak 24 item valid dan 10 item tidak valid dari 34 item, r11 > rtabel atau 0,942 > 0,404 dapat disimpulkan 24 item yang valid dinyatakan reliabel. Dengan demikian instrument dapat digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian.

Berdasarkan analisis data besarnya koefisien korelasi sikap belajar (X1) dengan motivasi belajar (Y) yaitu 0,317 dengan kontribusi sebesar 10,05%. Tingkat signifikansi koefisien korelasi dari output diukur dari nilai probablilitas menghasilkan angka 0,002. Karena probabilitas lebih kecil dari 0,05 atau 0,002 < 0,005 maka korelasi antara sikap belajar (X1) dengan motivasi belajar (Y) signifikan. Dari analisis data diperoleh rhitung sebesar 0,317 dan nilai rtabel dengan α = 0,05 dan n = 48 sebesar 0,284. Karena nilai rhitung > rtabel atau 0,317 > 0,284 maka Ho ditolak, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara sikap belajar dengan motivasi belajar statistika inferensial mahasiswa pendidikan matematika.

Koefisien korelasi minat belajar (X2) dengan motivasi belajar (Y) yaitu 0,293 kontribusi sebesar 8,58%. Tingkat signifikansi koefisien korelasi dari output diukur dari nilai probablilitas menghasilkan angka 0,004. Karena probabilitas lebih kecil dari 0,05 atau 0,004 < 0,005 maka korelasi antara minat belajar (X1) dengan motivasi belajar (Y) signifikan. Dari analisis data diperoleh rhitung sebesar 0,293 dan nilai rtabel dengan α = 0,05 dan n = 48 sebesar 0,284. Karena nilai rhitung > rtabel atau 0,293 > 0,284 maka Ho ditolak, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara minat belajar dengan motivasi belajar statistika inferensial mahasiswa pendidikan matematika.

Selanjutnya, berdasarkan analisis data besarnya koefisien korelasi sikap belajar (X1) dengan minat belajar (X2) yaitu 0,357 kontribusi sebesar 12,74%. Tingkat signifikansi koefisien korelasi dari output diukur dari nilai probablilitas menghasilkan angka 0,000. Karena probabilitas jauh lebih kecil dari 0,05 atau 0,000 < 0,005 maka korelasi antara sikap belajar (X1) dengan motivasi belajar (Y) signifikan. Dari analisis data diperoleh rhitung sebesar 0,357 dan nilai rtabel dengan α = 0,05 dan n = 48 sebesar 0,284. Karena nilai rhitung > rtabel atau 0,357 > 0,284 maka Ho ditolak artinya terdapat hubungan yang signifikan antara sikap belajar dengan minat belajar statistika inferensial mahasiswa pendidikan matematika.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara sikap, minat dengan motivasi belajar statistika inferensial mahasiswa pendidikan matematika STKIP YPM Bangko. Sikap belajar turut menentukan intensitas kegiatan belajar. Sikap belajar yang positif akan menimbulkan intensitas kegiatan yang lebih tinggi dibanding dengan sikap belajar yang negatif. Peranan sikap bukan saja ikut menentukan apa yang dilihat seseorang melainkan bagaimana ia melihatnya. Menurut Slameto (2003:188) bahwa “faktor lain yang mempengaruhi hasil belajar adalah sikap. Sikap merupakan sesuatu yang dipelajari dan sikap akan menentukan bagaimana siswa/mahasiswa bereaksi terhadap situasi serta menentukan apa yang dicari dalam kehidupan”. Sementara Djaali (2008:116) menyatakan bahwa segi afektif dalam sikap merupakan sumber motif. Sikap belajar yang positif dapat disamakan dengan minat, sedangkan minat akan memperlancar jalannya perkuliahan mahasiswa yang malas, tidak mau belajar dan gagal dalam belajar, disebabkan oleh tidak adanya minat.

Berdasarkan hal-hal yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa sikap belajar ikut berperan dalam menentukan aktivitas belajar siswa. Sikap belajar yang positif berkaitan erat dengan minat dan motivasi. Oleh karena itu, apabila faktor lainnya sama, mahasiswa yang sikap belajarnya positif akan belajar lebih aktif dan dengan demikian akan memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan dengan mahasiswa yang sikap belajarnya negatif.

KESIMPULAN

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, dapat ditarik beberapa kesimpulan berikut ini.

  1. Terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dengan motivasi belajar statistika inferensial mahasiswa matematika STKIP YPM Bangko tahun 2014, dengan koefisien korelasi sebesar 0,317 dan kontribusi sebesar 10,05%.
  2. Terdapat hubungan yang signifikan antara minat dengan motivasi belajar statistika inferensial mahasiswa matematika STKIP YPM Bangko tahun 2014, dengan koefisien korelasi sebesar 0,293 dan kontribusi sebesar 8,58%.
  3. Terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dengan minat belajar statistika inferensial mahasiswa matematika STKIP YPM Bangko tahun 2014, dengan koefisien korelasi sebesar 0,357 dan kontribusi sebesar 12,74%.

SARAN

Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukan, peneliti mengemukakan saran: dosen dalam proses perkuliahan mempertimbangkan faktor sikap, minat dan motivasi mahasiswa dalam mempelajari konsep-konsep statistik inferensial, khususnya materi statistik paramaterik. Bagi mahasiswa supaya lebih intens mempelajari materi-materi statistik inferensial, mengingat manfaat yang sangat penting untuk menyelesaikan tugas akhir skripsi dan dalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR RUJUKAN

Belly, Ellya dkk. 2006. Pengaruh Motivasi terhadap Minat Mahasiswa Akuntasi. Simposium Nasional Akuntasi 9 Padang.

Bob dan Anik Anwar. 1983. Pedoman Pelaksanaan Menuju Pra Seleksi Murni. Bandung: Ganesa Exact.

Dimyati dan Mujiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Dimyati dan Mujiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Djaali. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Djamarah, S dan Zain, A. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka cipta.

Djayadisastra, Yusuf. 1989. Psikologi Perkembangan. Bandung: BPGT.

Hamalik, Oemar. 1983. Metode Belajar dan Kesulitan Belajar. Bandung: Tarsito.

Havis, Aima, (2006). Statistik. Jakarta: Candra Pratama

Purwanto, Ngalim. 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Riyono. 2011. Motivasi dan Minat dalam Pembelajaran. Jakarta: Gramedia.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Sudijono, Anas. 2009. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Rajagrapindo Persada.

Sugiyanta, (2005). Statistik Nonparametrik. Yogyakarta: FMIPA UAD

Suryabrata, Sumadi. 2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.

Walgito, Bimo. 2004. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi.

Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.

Add Comment