Jen Kelana: NKDA#6

RELIEF LOROSAE
 
Telah ku urai
stagen yang melilit pinggang pertiwi hingga
terjuntai menyingkap adanya
dalam ramping berisi
kelegaan memancar disetiap tarikan
lenguh tanah yang menggigil
memastikan masih ada geliat kemuskilan
bahkan ketika bias lentera tinggal kerdip
secuil resah memaksa terpana
 
Ajarlah kami, wahai
tentang kesangsian yang menjadi komoditi
hingga mengalirkan transaksi
menggigil dan hilang nyali
lalu, berlarilah Lorosae ngejar matahari sendiri
 
Teriak langit menyayat
di sepanjang ujung tak berpangkal
membatukan dendam hati orangorang terpilih
keringat mengucur darah memangsa nyawa
hilang lepas torehkan luka
memprasasti njelma relief candi setiap hati
abadi.
 
 Bangko, 31 Januari 2002
 
 
 CERITA KERETA
 
Dingin menghanyutkan jam menjadi malam
sebab tak seharusnya terus benderang
meninggalkan perhelatan
usai bersama hilang bersama lalu
berlarilah ngejar mimpi sendiri
 
Cerita kereta seribu tertera pada
lokomotif terbentang relief
menjajakan hidup trotoari
yang gelisah njelang pagi
teriak suara mengais rezeki
mengusik lelah nyawanyawa singgah hingga
bertebar juga domino seiring
derit kereta melangit
 
Manakah,
terindah perjalanan diantara sekian
lekuk pikuknya malam pada
terik yang tidak terlirik hingga
dingin menghanyutkan jam menjadi malam
menjadi bahasa yang tak dimengerti oleh
serangkum kembara mengembara
menjimpit sedikit kearifan lalu
mengumpulkan. Serupa jalinan jalanan
melenguhlah sepekat harapan
kembali pulang
dan berlarilah ngejar mimpi sendirisendiri
 
 Semarang-Jakarta, Feb 2002
 
 
 
ALFRESCO
 
Terkungkung pengap
mengusung senyap
ruhku terpenjara
mengintimi bilik bui berjeruji ambisi
pengap senyap gelap pekat
dan bila akan menguap
 
Aku rindu,
memeluk spektrum gemulaimu
sepercik tempias bianglala bersirobok
bersama netraku
aku ingin mencari kesungguhan
dari kerling sinar-Mu
seperti menguliti dekil ruhku
meniupkan amanat perjanjian firdaus
bila nanti
aku ingin menerjemahkan titah-Mu
di benderang kencana
 
 Sungai Sahut, Desember 2001
 
 
 
HASRAT
 
 
Kukayuh penat yang menggeliat
dengan kuasa yang tak seberapa kuat
aku semakin berhasrat
 
Kawan,
intiplah sedikit urai sanubarimu
adakah disana kedamaian
matamu selama ini terbelalak
cahyamu pun bertebar gelora
: kenapa kau buta ?
 
Kawan,
mereka kangkangi yang mestinya milik kita
mereka telanjangi arca keagungan kita
mereka kebiri hak-hak kita
mereka,
Lalu mereka pergi
aku terhina
tidakkah aku sebagian dari dirimu
adakah inginmu demi senoktah kebersamaan
tiadakah tergelitik intuisimu untuk sebuah perubahan 
sedikit saja, kawan !
Hela jemari kita untuk satu tekad
untukku, untukmu dan untuk kita !
 
Dalam gelisah yang mulai lelah
tersisa gelora yang membara
demi semua maka kita nestapa
demi kita maka semua sengsara
namun asa kita adalah bijaksana
 
 
Imaji Bangko, 02 September 2001
 
 
 
Bentuk Itu Bernama Seperti Kebenaran
 
 
                                    I
 
Ketika tanah ini menjadi sarang drakula
maka keheningan malam buram
yang melahirkan sajak sajak akan pupus juga
Bau amis darah menua berdifusi
bersama anginangin yang enggan berhembus
entah dari mana. Tanah ini mati
tidak ada dengus nafas memburu seperti
ketika tanah ini masih bernama bumi
ketika huma masih membiaskan bianglala pelangi
merah, kuning, hijau memprisma
memetakan sketsa langit. Biru
tidak setitikpun hitam
hitam hanyalah noktah
yang mngeratkan kelam, buram kekejaman
dan segerumbul kenistaan
 
Tidak. Langitku masih tetap biru
masih juga disfersi laut, kataku.
Meski peradaban semakin kabur tanpa makna
aku adalah sebuah lugu. Lugu
seperti kakeknenekku dulu dan hingga kini
memuja nilainilai benar yang diyakini
kebenaran yang terjelma dari bentuk bernama langit
 
 
                                II
 
Ketika tanah ini mulai akrab dengan anyir darah
tertumpah dari pantat, telinga dan mulutmulut
yang hanya bisa berkata, “Mampuslah!”
Dan jika mantra itu mengalir menusuk merjan
maka tercecerlah ke segenap penjurupenjuru
tempat sajaksajak mati pernah terlahir
hidup selintas
lalu habislah riwayat yang belum di rencanakan
belum sempat di anggarkan
harus terkulai dan berakhir tragis
sebelum puas mengakrabi udara yang terkontaminasi
kita harus hijrah
dari tempat yang bernama mati
 
           
                                III
 
 Diatas reranting perdu
entah tetumbuhan apa
di bumiku tak pernah ku temukan
dari duludulu bahkan
jangan menjadikanku terjebak oleh kebaruan
kesenangan yang bersimbiosis dengan kejengkelan
seperti di rerantingan itu
bertenggerlah drakula yang baru saja memangsa
seekor perawan tamat di malam laknat
lihatlah, betapa rakus menjilati sisa darah
lidah bercabang liar menguliti sekujur muka
bermainmain
sementara sekujur tubuh tergolek mati
bangkai perawan itu seakan bergumam
: inikah keadilan ?
 
 
Bangko, Januari 2002
 
 
 
Sumber :
 
Harian Jambi Independent
 Hasrat
Di Bawah Kubah
Di Batas Kebimbangan
Alfresco
 
Mingguan Suara Jambi
 Gelisah Ini, Pasti !
Menyisir Senja Sungai Putih
 
Harian Sriwijaya Post, Palembang
 Nasi, Sambal Terasi dan Ikan Teri
Di Sinilah Kau Mesti Pulang, Ko !
Gerimis Kuyub Dara Kecil Bergandengan
 
Harian Umum PELITA, Jakarta
 Nukilan Kabar dari Arasy
Di Depan Tungku
Eksekusi Mati
Ketika Berkobar Ada yang Memadamkan
 
Harian SUARA KARYA, Jakarta
 Di Manakah Tuhan
Malam Gelisah
Aku Lapar
Bentuk Itu Bernama Seperti Kebenaran
 
 
 

Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.

Add Comment