Jen Kelana: NKDA#5

T R O T O A R I
 
 
Dengung sayup gemulai
memulai perjalanan waktu memunguti
selembar baitbait kusam
terdengar giris mainkan bahasa naluri
tentang
anakanak beribukan jalanan
buah kawin sinergis matahari dan bulan
hingga menjejalkan anganangan
 
O, adakah degub jantung
meratap mengumbar nestapa
sepanjang nasib yang termarginalkan
oleh desakan angka beraksara
merajut mimpi yang hampir mati
 
Deru bus kota
lenguh pasar
teras peradaban masa depan
dan sejumput hari setumpuk kemarau
hilangkan kepingan keindahan
lalu,
kusimak sayup lagu
menertawakan sibuk birokrasi dan penggusuran
kampung kumuh megapolitan
di tengah cakar langit post modernisme
mengais sisa kemurahan hati penguasa
 
 
 Salemba, Februari 2002
 
 
 
Nasi, Sambal Terasi dan Ikan Teri
                : koruptor
 
Nak,
bukankah kau yang datang kemarin
berdasi, berpakaian safari rapi sekali
kilauan semir sepatumu
mengacaukan mukaku yang keriput ini
di sakumu berjejer antri
ballpoint berkelas luar negeri
“Untuk tanda tangan, Nek !“ katamu
 
Nak,
aku tak mengerti apa yang kau maksud
aku tak tahu apa itu tanda tangan
kompromi, lobby dan negoisasi
coba Nak, katakan padaku
sedikit saja,
aku boleh berkata ‘off the record’ khan ?
Katakan padaku,
hanya aku dan kau, Nak
“Off the record, Nek !“ katamu latah
 
Nak,
uang yang kau dermakan kemarin
hari ini sebakul nasi
rasanya turut berseri menemani ikan gurami
dan juice strawberry untuk buka puasa nanti
padahal kemarin
dan harihari panjang sebelum ini
seceguk nasi
hanya dihiasi sambal terasi dan ikan teri
juga kolak ubi
 
 Nak,
waktu merangkak terlalu lambat
aku menunggu pasti bedug di mushalla
dengan pasti menandai berbuka
kenapa terasa semakin lama, Nak !
padahal sebakul nasi, ikan gurami juga juice strawberry
memanggil melambai liurku
tapi Nak, aku tak beranjak jua dari tafakurku
ketika terdengar lagu mendayu bedug itu
bahkan seperti ada yang menuntunku
bersama seceguk nasi, sambal terasi dan ikan teri
aku berbuka di rumah cucuku bukan di rumahku
 
 Bangko, November 2001
 
 
 
Aku Lapar
 
Tersampir di dengusku seberkas nikmat
mengalirkan hawa kehausan, lapar
tercium kepada negeri yang merintih
hingga menggerigikan mulutmulut asam
 
Sedang aku
setiap lenguh nafas memburu adalah nyawa
mengikat selembar gumpalan tulang berserat
hanya menyisakan puingpuing polusi yang berkolusi
bersama keringat yang memandikan
jelagajelaga menggumpal
hingga menyesakkan kolaborasi sumsum
dalam alfa yang menggeliat
mencerca dalam serapah caci maki
lapar
 
Tersampir di dengusku seberkas nikmat
menyelip di gigigigi bertahi
menari bersama tarian angin
yang kerap kali berkelana
menyusup di selasela mulus pahapaha perawan manikin
mencerucupi lembah berhutan yang berubah tandus
dan berkata
: buanglah semua keinginan !
 
 
Bangko, Januari 2002
 
 
 
Atas Nama Rakyat
 
 
ketika mulut birokrat
menyulap bias biru njelma putih
menghalau kesaksian
membuih mendidih serupa sloganslogan hingga
mementahkan tirakat berjejal merjan
atas kesaksian yang lain
 
goresan nyeri tersulam kian
lelah merajut peradaban terpilin benangbenang
bukan makin kusut
terpoles rapi menyatu denah seperti
melilit mulutmulut mencerucupi sisasisa
geliat menggigil kamuflase subsidi
tawaku menari mengitari lenguh
jerit yang terkomulasi setelah dua puluh tiga
hari menghitung waktu mengawinkan tahun
belum usai.
 
masih sama,
tidaklah berbisa jika
bisikbisik terdengus sekali hanya sekali
seperti tertelan gumpalan bangkai
pada tenggorok birokrasi hingga
mengebiri demokrasi
demos
kratos
rakyat diperalat. Bangsat !
 
 
Februari 2002
 
 

Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.

Add Comment