Jen Kelana: NKDA #2

Gerangan Siapkah
 
 
Gerangan siapakah engkau, wahai
berdiri mangu di jalan malam hitam
di mana terkubur cerita masa silam
yang mengkristalkan warnawarni hingga
memancar setitik menelan kegelapan
 
Gerangan siapakah engkau, duhai
berkata sendiri di setiap terhamburnya waktu
di mana nurani tidak lagi penuh janji
adakah malam menjadi dendam lalu menjeratmu
adakah sepi menjadi seteru lalu membiusmu
adakah impian menjadi hamba hingga
menidurkan jasad dan bathimu
 
Gerangan siapakah engkau,
yang gelisah menunggu kegaiban
yang resah melihat benar disamarkan
yang risau mendengar bisikan melenakan
Selalu saja,
bimbang menorehkan mual
hingga janji hanya tinggal puisi
tersangkut di langit tak bertepi
 
 
Kampus, Januari 2002
 
 
 
 
Di Depan Tungku
         : mbokku
 
 
Begitu,
tidak pernah lelah meghitung waktu
walau tertatih satusatu
mengeratkan kharisma di mataku
menulisi kalbuku
demi tak terhingga cerita
tentang hidup
di sini
dan kelak di sana suatu ketika
 
Di depan tungku,
lebaran tinggal sepenggal meninggalkan
rindang ramadhan
seperti bertahun lalu setiap waktu ini menunggu
aku bercengkerama
mengunyah untaian tiga puluh
menyeduh menu terakhir pada senja rahmat-Mu
aku bersimpuh di pelukmu
: Le, lumuri hidupmu sewangi bismilah
  lalu genapi usiamu bersama alhamdulillah !
 
 
Sungai Sahut, Desember 2001
 
 
 
 
Di Sinilah Kau Mesti Pulang, Ko !
                bagi: koko bae
 
 
tiba-tiba langit merah darah
njelma hitam muram
dalam elegi mendung berguman lirih
menyayat abadi
kau tinggalkan kami jauh
sebelum belaimu mengeratkan prasasti
 
pergilah,
semua catatan telah kau tamatkan
serupa nyiur tegar memagari hempasan badai
ketika episodmu usai
terkulai tengadah kembali
menyatu dalam berkah
darimana kau datang
dan di sinilah kau mesti pulang
 
bukalah segala pintupintu
yang pernah dijanjikan kepadamu lalu
kilatkan seserpih senyum
serupa pecinta lelah mengembara
damailah
sebenar-benar damai
menyatu dalam tenang
darimana kau datang
dan di sinilah kau mesti pulang, Ko !
 
 
               Jambi, Februari 2002
 
 
 
 
Gerimis Kuyub Dara Kecil Bergandengan
          bersama penyair asro al murthawy dan yanto bulle
 
 
Usai perjamuan batin sore ini
gerimis kuyub turut menyela
serupa hio mengendus dalam larut
menusuk kerlip pelita
perahu
di pelabuhan kecil itu
 
Nikmat kupuasi
perbualan mengalir menelan angin
melaut
dan segera melarut menjadi gumam
bersekutu serpih dingin
sebab kelam menenggelamkan malam
mengusung kepergian
dara kecil bergandengan pada
rajutan berahi
Rintih lirih gemerisik dedaun mengusik
persetubuhan, terurai lalu bercerai
menghablurkan secoret catatan pada
turapturap kanal yang binal
seumpama sekat yang menyekat batas kenisbian
kita berdiri
tak mengerti lagi siapa diri sendiri
 
 
Jambi, Maret 2002
 
 

 Eksekusi Mati
 
 
Di malam kudus
berserunai tadarus
menghempas ruhku menggapai
menyingkap mulus
menuai gerinjal dan tandus
 
Di malam kudus
berserunai tadarus
aku mampus
 
 
Sungai Sahut, 2001
 
 

Ketika Berkobar
Ada yang Memadamkan
 
 
Berkobar pawaka di dadaku
melahap rakus nikotin
dan canducandu melilit hidup
menyerpih debu
menghempas segala kamuflase
yang menggelapkan wangi
 
Pawana enggan membelaiku
memupus juga niatku
padahal setiap jengkal waktu mencumbumu
punahlah
bersamaku akan musnah
 
Berkobar pawaka di dadaku
tetapi juga
pawana enggan membelaiku
aku terhimpit kemustahilan
setelah berkutat bergelut dengan maut
lenyap sudah keduanya
mengubur arteri hidupku
 
 
Sungai sahut, Desember 2001
 
 
 

Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.

Add Comment