Jen Kelana: NKDA #1

Nukilan Kabar dari Arasy

 
Jen_NKDADosa,
seperti putih tergores garisgaris hitam perpendaran
meninggalkan cerca menganga melebar jurang
jauh terlalu jauh hingga jatuh menelanjangi
kamarkamar naluri mengganti setumpuk permadani
bersama serapah. Atheis.
 
Hukuman,
masihkah berarti tanya bergulir manganulir anasir
terpetik dari gumpalan dosa yang mengebiri
satu janji yang di nukilkan dari Arasy. Hingga
palu cambuk api mencukur lembar nyawa menukar
dengan bilurbilur kusam. Azab.
 
Siksa,
adalah akhir dari sebuah lukisan karma. Tidak !
sendiri memetakan skenario mengunyah kemuskilan
terbantah angkuh kabarkabar yang terdefinisi jelas
dari samawi terbukti berelevansi kini
tapi,
jejak manis adalah neraka berkiblat terlupa
meski hilang segala punya mengakali benak
tetaplah berkoar mendepak jijik akan dengus Ilahi. Mati.
 
Sakit,
terbuang ruang pengampunan melayari pendakian keinginan
takkan terdengar lagi penawaran. Sekali cuma sekali
maka menangislah. Tangis.
 
Derita,
sementara di sini nyawa hanya melawat
ternyata luka yang sengaja di petakan pada
lenguhlenguh setapak jalan lurus diperdaya
berliku. Maka menuailah. Tuai.
 
Menyimaklah !
 
Sungai Sahut, 2001
 
 
Di Batas Kebimbangan
 
Kelekatu menyeruak sisasisa waktu
membisiki rerimbunan ilalang mengering
menapak berkeringat membangun gundukan
sedikit demi sedikit
semangat baja mengubur kelelahan
diantara basah tanah merah membongkah
hingga kering diketika malam kelam
 
Aku menangis,
semangat membara kelekatu mengusiku
giris. Pada usia tua berselimut gelisah
masih membiarkan raga berlumuran jelaga
pekat
ingin kuurai puing reruntuhan di senjaku
agar tabir kekusutan menjela tersebar
mengabarkan untaian janji-Nya
 
 Pada suci bulan-Mu
aku menggerogoti nafas busuk di jiwaku
ketika lalu memenjarakan keikhlasan
demi bakti
demi pasrahku
demi sebentuk pengabdian. Bersama kekasih-Mu
aku mengajari mata bathin berlumpurku
dengan dzikir yang mengalir abadi. Menyuarakan
kelelahan-kenaifan-yang terbuang berabad lalu
pada mukjizat kalam-Mu yang bergema
pada ketika malam Ramadhan-Mu
aku menyentuh haru diridho-Mu
 
 
Imaji Bangko, 28 Oktober 2001
                              
 
Di Bawah Kubah
 
 
Merenungi sujud yang tersisa
semakin menggumpal
pekat di dada tanpa memuja asma-Mu
beku. Serpih niat menghamba
tinggal setitik darah ruang bathin
terisi sekelumit pujapuji
setetes
 
Masih ada kerdip lentera menaungi
menerangi segumpal kenaifan teragungkan
hanya senyap
lalu lenyap mengerjap menguap
kandas segala bakti menghakimi diri
menelan beban perjanjian takdir
atas kelahiran
 
Di antara tarawih
mengelupas debu bertabur Lumpur
sedikit. Kumandang kalam mencerca
belenggu kedzaliman
sedimen nista meraung membubung
menanggung murung kepasrahan
salah yang menambah gelisah
mengikis pergulatan sanubari
pupuslah kehendak memapar rona gairah fana
terlukis seulas kerendahan
pada rindang kubah-Mu aku mengadu
menuang keikhlasan
bersama suci yang melingkari hati
 
 
Kampus, 03 November 2001
 
 
 
Di Manakah Tuhan
 
 
di manakah tuhan
 
di titik lenyap pandang
setinggi pancaran alam
tak kudapat
 
di pangkal tak ada ujung
hingga menghujam pusaran masa
tak ada
 
sebatas akal mengakali
kekal yang azali
tertangkup mati
tidaklah sampai menguliti
 
di manakah tuhan
 
di matamubibirmutelingamutanganmukakimu
di kepalamuotakmukalbumu kudus
terpancar cahaya tuhan
 
di manakah tuhan
 
tidak usah mencari
tapi telah kau rasakan nikmatnya
maka bersujudlah
 
 
Sungai sahut, 2001
 
 
 
Malam Gelisah
 
 
Malam,
titik air meneteskan noktah pada atap peraduan
perlahan. Angin melingkari dingin poripori menggigil
sepi. Diantara hening jiwaku mengembara mencari
padmasana-Mu. Berputar dihempas serpihan kilat
menyambar lalu buyar
 
Gelisah,
serasa turut melarut berdifusi bersama kepedihan
mengambang. Ada keinginan terbang melayang
menembus kudus yang Kau janjikan
tapi ketika langkah setapak baru meluluhkan
gejolak jiwa
 
Bimbang,
kerap menyiksa hingga tertuang keputusasaan
menggauli bisikanbisikan menjeruji
Bakhteraku masih jauh terombangambing
di kungkung gelombang yang bergemuruh kian
meraksasa menggulung desah ruhku
 
Ragu,
masihkah asma-Mu luruh di hatiku ?
 
 
Sungai Sahut, Desember 2001
 

Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.

Add Comment