Cerpen: Suatu Waktu

Jen kelana

hellJerit kesakitan tak sempat melangit. Tersangkut pada serupa dinding pekat, gelap dan hitam di keempat sisinya. Atap datar juga hitam. Hanya bisa mendengar sendiri. Di luar ? Tidak berbeda. Tidak ada siang dan malam. Di manakah ? Entahlah ! Hembusan anginpun tidak ada. Air ? Apalagi ! Tapi ? Pertanyaan lain tiba- tiba terangkai dalam kesepian yang menggigit ini. Lagi-lagi seperti jeirtan kesakitan, pertanyaan-pertanyaan itu tersangkut pada serupa dinding pekat di keempat sisinya. Di manakah ? Entahlah !

 Lengkingan itu memasuki gendang telingaku. Makin keras, makin menjadi lalu sekejap lenyap. Sunyi senyap. Kemudian berulang lagi, berulang lag. Begitu kejadiannya. Setiap waktu dan tidak pernah berhenti. Entah sudah berapa lama hal itu berlangsung. Semuanya absurd. Tapi tidak bagiku. Fenomena ini adalah keseharianku. Aku sudah terbiasa mendengar dan menyaksikan serentetan peristiwa ganjil yang mendirikan bulu kuduk itu. Aku justeru tersenyum menghadapi semuanya….

 Aku terbaring di atas tempat tidur spesial yang tidak dimiliki siapa saja. Tidak seorang raja atau seorang presiden sekalipun. Apalagi sebangsa kere-kere yang berserakan di sana. Di atas bumi yang sudah menua dan dilingkari uban itu, yang setiap hari tiap waktu belajar menjadi orang-orang yang paling sabar. Namun bagiku kesabaran itulah yang mengantarkan aku ke sini. Di tempat ini.

 Dengan permadani sutra, aku menikmati pelayanan layaknya hotel berbintang. Bukan, kenyamanan ini tidak bisa disamakan dengan apa dan di mana. Dan ketika kusandarkan kepalaku, ada perasaan nyaman sebenar-benar nyaman. Bahagia tak terhingga. Aku sedikitpun tidak merasa terganggu oleh jeritan-jeritan melengking yang setiap saat sanggup memekakkan telinga itu. Biasa-biasa saja. Tidak ada yang perlu kurisaukan.

 “Ctar, ctar, ctar !” tiba-tiba suara-suara ganjil itu lagi-lagi terdengar. Diirngi lengkingan yang menyayat, cambuk api itu terus saja melecuti tubuh yang tinggal kerangka menganga. Sedikit daging yang masih menghiasi muka, mengisyaratkan roma ketakutan dan kengerian. Setiap kali cambuk api menyentuh tubuh itu, setiap kali pula jeritan mengguntur berkepanjangan. Belum lagi hilang lengkingannya, campuk api itu sudah menghampiri lagi. Begutu berulang-ulang sehingga sekejap senyap. Tubuh tinggak kerangka itu menggeliat menahan nyeri, pedih, perih. Dengan susah payah dia berusaha bergerak. Tertatih. Berhasil juga dia berbaring, lalu matanya menandangku lekat-lekat.

 “Kenapa kau tidak sepertiku ?” tanyanya padaku. Aku tersenyum dan berusaha menghampirinya. Tidak ada perasaan kasihan setitik pun pada diriku menyaksikan keadaannya. Belum lagi bisa mendekat langkahku tersendat, terhalang oleh sekat transparan yang membatasi aku dengannya. Aku hanya bisa memandang dan mendengar suaranya. Setiap waktu aku bisa menyaksikan penyiksaan itu. Dan setiap waktu pula dia bisa melihatku mendapat perlakuan istimewa.

 “Aku pernah mendengar orang-orang berkata kepadaku tentang kehidupan di sini. Dan aku percaya itu.” kataku. Dia masih belum mengerti. Dari kerlingan matanya aku tahu dia belum bisa memahami jawabanku.

“Apa yang mereka katakan padamu ?”

Aku ingin menjawab pertanyaannya itu, tetapi seperti ada yang menahan agar aku tidak menjawabnya. Aku hanya mampun memandangnya. Dia menghiba dan memohon kepadaku untuk menjelaskannya. Aku tidak mampu.

“Ctar, ctar, ctar !” Cambuk api itu memberi jawaban seketika, gemuruh lengkingan terdengar di telingaku seperti langgam sebuah elegi. Pilu ! Aku tidak mampu menolong tubuh yang tinggal kerangka itu.

***

Sebuah rumah.

Hawa dingin mengiringi jatuhnya malam. Gemerisik daun-daun melebur bersama aroma seperti bebauan dupa. Kadang-kadang menyeruak menusuk hidung dan terkadang tidak tercium sama sekali. Di luar udara dingin luar biasa. Namun kegerahan menyapa orang-orang yang sedang khusuk membaca surta Yasin. Tahlilan. Di sebuah rumah. Kesan sedih terlukis melatari bergulirnya malam. Suara-suara itu seperti hilang dan timbul dibawa angin yang menerobos pintu-pintu rumah. Jauh melayari rumah-rumah di sekitarnya. Tersangkut pada ventilasi-ventilasi jendela, tertinggal din tepian-tepian sungai yang berubah fungsi menjadi tempat pembuangan limbah. Segalanya seperti kehilangan sesuatu yang paling berharga. Mereka bersedih. Mereka merasakan keresahan yang berkepanjangan atas kehilangan ini. Pekat di langit barat, timur, utara dan selatan menambah kesedihan. Pilu. Semua meluruk, bergabung dengan saudara merekayang dicoba kesabarannya. Jadilah ‘paduan suara’ mengumandangkan kalam-Nya.

Di tengah ruangan tergolek sesosok tubuh yang terbungkus kain putih. Kafan. Dikelilingi orang-orang yang mengasihinya. Istri tercinta, anak-anaknya, kerabat-kerabatnya dan orang-orang yang begitu menghormati dan mengaguminya. Mereka kehilangan atas lepergiannya.

Sembab masih terlihat jelas di wajah-wajah mereka. Sisa air mata menggenangi lekuk mata mereka. Adalah kepedihan yang maha dahsyat. Alampun turut berduka. Malam menjadi saksi atas semua ini. Perlahan rerintik gerimis turut menangis giris. Iramanya teratur dan menghiba. Di dalam deraian rinai itu terdengar suara-suara yang seakan-akan ingin menyela gerimis. Seperti ingin memberi kabar kepada semua yang ada di rumah itu.

“Tidak usahlah kalian bersedih. Kepergianku ini membawa berkah. Untuk apa air mata itu kalian tumpahkan. Simpanlah, curahkan nanti ketika dunia diambang kematian.”

Seseorang yang duduk di pojok ruangan memandang orang yang hadir dalam tahlilan ini. Semua khusyuk dengan bacaannya masing-masing. Orang iu berusaha berkonsentrasi lagi dan mengikuti irama bacaan mereka. Namun suara-suara itu kembali mengganggu usahanya menghalau kegugupan yang tiba-tiba menyergapnya. Dipandanginya lagi orang-orang di sekelilingnya. Tidak berubah. Malah semakin sendu saja. Bahkan terlihat air mata menggenangi kedua pipi perempuan yang menjadi istri si mati. Heran. Sama seperti perasaannya.

“Akupun hampir-hampir tak mampu membendung bah di mataku, “ gumamnya. Apakah perempuan itu mendengar juga suara-suara itu ? Entahlah ! Barangkali saja. Beberapa kali memang terlihat perempuan itu memandang orang-orang yang hadir di situ. Walaupun tidak begitu jelas, perempuan itu hanya mengerling. Suatu ketika matanya bersirobok dengan pandangan orang yang duduk di pojok itu. Air matanya semakin mengalir membsahai pipinya. Dan menunduk lagi berusaha menahan kegelisahan hatinya.

“Terima kasih kalian maun mendoakan aku. Aku bahagia sekali mendapatkan kenyataan ini. Tapi janganla kalian buang airmata, hanya akan menjadi aral bagiku. Pesanku aku pernah mendengar orang-orang berkata padaku tentang kehidupan di sini. Dan aku percaya itu. Aku mau kalian seperti aku,” kembali terngiang suara-suara itu. Perempuan tadi menandang ke arah pojok ruangan. Seakan ada yang ingin dikatakannya kepada orang yang duduk di pojok itu.

Malam semakin larut. Hujan tinggal menyisakan dingin. Sementara orang-orang yang tadi tahlilan satu demi satu meninggalkan rumah itu. Cahaya lampu petromaks sedikit redup mengiringi berlalunya mereka. Tinggal orang yang duduk di pojok, anak-anak, istri si mati dan kerabatnya yang masih tinggal. Kemudian mereka larut dalam bayangannya sendiri-sendiri, hingga tak sadar satu persatu terlelap dalam kelelahan.

***

Sebuah rumah.

Lalu lintas semakin pada bila malam minggu begini. Apalagi jalur-jalur utama kota megapolitan ini. Bahkan segerombolan kendaraan roda dua seperti ingin mengangkangi jalanan. Raungan mesinnya singgah di sebuah rumah mega di pinggiran jalan protokol itu. Pagar tembok tinggi dengan halaman yang maha luas. Terlihat banyak mobil mewah parkir di situ. Kelihatannya ramai sekali. Suara riuh rendah menyeret langkahku melongok ke dalam rumah itu. Astaga ! Sesosok tubuh dibungkus kain putih tergolek pasrah dikelilingi orang-orang yang rata-rata berperut gendut. Memakai jas hitam lengkap dan mengesankan turut berduka cita. Namun anehnya di antara mereka ada yang bermain judi dan minum-minum. Botol-botol berserakan di lantai bau alkohol menyengat penciumanku. Ada bagian kafan si mati yang tersiram minuman itu. Sambil tertawa-tawa menertawai kematian ini. Aku tegak diambang pintu memandang mereka. Kulihat di sudut ruangan, anak-anak, istri dan kerabat si mati bercengkerama dengan perempuan-perempuan lain. Aku tertegun. Jahanam. Istri macam apa ini ? Dalam kebingunanku dan ditingkahi suara gaduh, lamat-lamat kudengar suara-suara ganjil. Datang entah dari mana.

“Kenapa kalian seperti aku ?” kulihat perempuan yang menjadi istri si mati memandangku nanar. Ada keterkejutan dan paras mengisyaratkan ketakutan luar biasa. Orang-orang semakin asyik dengan kegiatannya. Tertawa-tawa hingga airmata mereka tertumpah. Perempuan itu berusaha berjalan ke arahhku. Susah payah dia melintasi orang-orang itu, dan ketika beberapa jarak lagi sampai ke tempatku berdiri, tanpa pengetahuan siapa saja aku beranjak pergi. Pergi melintasi pagar, melayang lalu melebur bersama wan putih di sela cahaya bulan separuh yang meredup. Dari jauh masih sempat kudengar teriakan histeris dari orang-orang yang berada di ruangan itu. Lamat-lamat kudengar suara cambuk api mengiringi teriakkan mereka.

“Ctar, ctar, ctar !” perempuan itu terperangah melihat mayat suaminya tiba-tiba bergerak-gerak. Orang-orang yang sudah setengah mabuk itu, tidak menghiraukan perubahan yang terjadi. Mereka baru sadar ketika dikejutkan teriakkan melangit.

Tauuuuuuuuubbaaaat!

***

Bangko, 17 Shafar 1423 H

Cerpen Jen Kelana : “Suatu Waktu Itu” pernah dimuat di Harian Umum Pelita Jakarta pada Kamis 30 Mei 2002 / 17 Rabiul Awal 1423 H.

 

Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.

Add Comment