BolehSAJA.net

20 Aug 2013

Cerpen: Mimikri (1)

Posted on: No Comments
mimikriGELAP. Tiba-tiba pekat menyergapku. Aku tak tahu, kenapa pandanganku menjadi terganggu, padahal beberapa detik yang lalu mataku masih awas menguliti deskripsi kehidupan yang terpampang di depanku. Berjejal manusia melaut. Mengais rejeki dengan caranya masing-masing. Saling berebut mangsa dan tidak memikirkan bahwa diantara mereka juga ada aku. Makhluk sepertiku, misalnya. Sisa hangatnya matahari kurasakan menyelimuti diriku, barangkali mereka juga merasakan hal yang sama. Mereka yag setiap waktu berkeliaran di sini. Di trotoar-trotoar, emperan-emperan took, diperempatan jalan, di lampu-lampu merah, di pemukiman-pemukiman kumuh, pasti merasakan juga perubahan seketika ini yang membuatku terperangah. Betapa keheranan menyapaku tiba-tiba, sementara terik berteriak, gelap menetralisirnya. Ada apakah ?Panas yang menurut lazimnya selalu bersinergi dengan terang adalah sebuah aksioma yang tidak perlu diperdebatkan dalam tataran apapun. Semua orang akan berkata sama dan memiliki argumennya masing-masing. “Memang begitu seharusnya”. Demikian orang berujar. Tidak terkecuali anak-anak yang beribukan jalanan, anak-anak yang besar atas asuhan rembulan dan matahari, beumah berkolong langit serta berlantaikan bumi, Pak RT juga bilang seperti itu, Pak RW, Pak Kades, Pak Camat, Pak Bupati, Pak Gubernur, Pak Mentri juga Pak Presiden. Semua sepaham. Bahkan mereka sependapat dan terus berakhir pada kesepakatan dalam satu visi.
Ah, jika kesepakatan itu ada di tataran negeri kita alangkah damainya. Barangkali tidak perlu lagi berfikir keras untuk transisi kearah itu. Tapi ? Tidak usahlah aku bercerita. Aku malu melihat kesemrawutan dan coreng moreng yang terjadi. Biarlah ! Mereka sejauh ini masih tetap konsekuen dengan keyakinannya. Dan ketika mahasiswa juga turut latah membenarkan segalanya, pak dosen, pak dekan, pak rector pun ngomong serupa. Bah, apalagi sebangsa “anak-anak asuhan kapitalisme” mendukung pendapat itu. Mantaplah sudah. Public telah menyatukan persepsi, bahwa panas selalu bersinergi dengan terang.Tidak ! Aku tidak sependapat dengan mereka. Aku tetap berkeyakinan bahwa terang tidak selalu berpasangan dengan panas. Biar saja orang bilang aku idealis, biar saja pendapatku itu terlalu ekstrim. Biar saja ! Euporia itu memang harus begitu. Tidak perlu meng”yes”kan semuanya. Aku pasti mempunyai opini tersendiri akan hal ini.
Suatu kali persoalan ini kubawa di tataran yang lebih tinggi. Pada kesempatan lain aku sempat berbincang dengan seorang doctor yang baru saja memberikan seminar ilmiah. Doctor itu secara refleks mengeryitkan alisnya ketika kuuraikan pendapatku itu. “Maksud saudara bagaimana,” tanya doctor itu seperi bodoh, atau memang bodoh. Aku mesem-mesem berlagak menguasai persoalan itu. Begitulah carakau, jika berhadapan dengan kaum intelak yang bagiku terlalu membanggakan diri dengan segala embel-embel yangdisandangnya. Belum tentu juga segala embel-embel yang berbaris-baris itu didapat dengan cara yang wajar. Aku seperti meremehkan kemampuan sang doctor tentang suatu yang kutanyakan. Bagaimana tidak, pertanyaan seperti itu menurutku tidak perlu berfikir untuk menjawabnya, seorang doctor memerlukan pemutarbalikan opini public terlebih dahulu.
Apakah seperti ini cara petinggi-petinggi negeri ini mengelabui rakyatnya, ya? Entahlah ! Dan aku sempat berkeyakinan, doctor itu hadir di seminar ini atas suatu maksud tertentu, tanpa ada keikhlasan pada dirinya untuk sekedar mengabdikan sebagian ilmunya. Padahal kehadirannya pada setiap acara seperti itu sangat besar imbasnya bagi public. Bukankah “enlightmen” bagi pedapat yang selama ini disalahtafsirkan adalah merupakan sumbangsih ? Dan jika inipun tidak menarik untuk kehadirannya, sudah bisa dipastikan beginilah mental kaum intelek itu. Orang sudah terlanjur berharap banyak terhadap mereka. Mereka dikaruniai kemampuan memutarbalikan opini public, setidaknya kesan yang ada selama ini, mereka adalah harapan bagi seluruh rakyat, bukan orang per orang dan bukan juga golongan, komunitas sebuah negeri.
Kemudian penyakit ini bukan terjadi pada sang doctor saja, bahkan mewabah hingga ke seluruh tatanan kehidupan. Celakanya lagi, kondisi ini ditengarai dengan adanya gejolak di mana-mana yang berakibat buruk terhadap sebuah kemampanan. Gejolak yang berakar dari persoalan-persoalan yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan. Dan seperti kekhawatianku semula, pada hari ini terbukti sudah.
Aku ingin menangis tapi air mataku hanya tinggal beberapa tetes, hingga aku takut suatu saat nanti tidak bisa lagi menangis. Terlalu seringnya kau membuang air mata, menangisi hal-hal yang sia-sia. Percuma, semua yang kita rasakan selama ini diperoleh dengan airmata darah. Aku yang hidup hari ini selalu berpesta atas seteguk kepentingan. Ironis. Simaklah teriak langit yang nyaris tidak sempurna terdengar belakangan ini. Parau, langitpun bosan menyapaku. Pada akhirnya, kekesalan yang terakumulasi sekian lama hari ini kurasakan hukumanya. Diturunkannya setitik keramahannya menegurku dengan banjir yang akrab melanda tanah ini. Ini persoalan baru yang relative serius. “Baru,” katamu. Bagaimana mengatasinya, aku hanya butuh tidur untuk melupakannya. Tidak perlu berusaha keras untuk menanggulanginya. “Kita hanya butuuh tidur,” katamu lagi. Satu bukti lagi, bahwa terang tidak selalu bersinergi dengan panas. Banjir terjadi ketika keadaan terang tetapi langit waktu itu cemberut, kesal, marah hingga wajahnya kelam membelam. Hitam.Dan satu bukti lagi, aku yang sudah dipercaya oleh rakyat ternyata tidak selalu memberikan setetes kesegaran bagi yang mengajakku ke sana. Aku hanya bisa berceloteh tentang keinginanku sendiri, tidak lebih. Persetan, bumipun tidak ramah lagi.

Bersambung ……….

Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.

More About: Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.
View More Posts By Jen Kelana
Posted on: 20/08/2013 | |

Leave a Reply


Slideshow

Boleh Arsip

Mungkin sahabat ingin juga membaca:close