Cerpen: Kisruh

Jen Kelana


kisruhHening. Panas menguap meledak-ledak. Di atas kepala-kepala berkerudung sejenis penutup transparan dan berair yang bertumpah ruah di dasar sebuah danau. Kering kerontang. Hanya terlihat bertitik-titik butiran air berkilauan memancarkan spektrum bianglala matahari. Gumaman panjang bercampur desah keluhan keluar dari mulut-mulut berair itu. Walau panas menyengat menghanguskan kulit-kulit mereka, namun mereka tetap saja berdiri patuh. Menyimak. Tua muda, anak-anak kecil, perempuan dan lelaki jompo dan semua ada di situ. Semua mata memandang tajam penuh pengharapan ke satu titik.

 ***

 REKSODIKOLO kebingungan. Sudah ada beberapa kali perputaran matahari redup itu kembali lagi di tempat semula dan ia masih juga di tempat yang sama. Sementara apa yang dicari belum juga kunjung ditemukan. Kalau saja aku tidak ngeyel begini, tentu aku sudah tidur nyenyak di sana, rutuknya dalam hati. Hanya dalam hati. Namun akibatnya tak seperti yang ia duga. Tiba-tiba jantungnya lebih cepat bergerak berdenyut, paru-parunya lebih keras memompa udara, matanya memerah dan seluruh tubuhnya lunglai tak bertenaga. Tidak bertenaga sama sekali. Menggelosorlah ia diantara onggokan putih menggunung di mana-mana. Sebelum ambruk ia sempat berguman.

“Ya, Yang Mulia perlihatkanlah welas asihmu sekali lagi kepadaku. Ampuni aku dan berilah kesempatan untuk memperbaiki segalanya.” Sontak keadaan kembali seperti sedia kala. Reksodikolo sadar semua gerak-geriknya diawasi sampai kepada persoalan hati sekalipun. Kemudian tidak ada lagi pikiran lain yang memadati benaknya, selain ketulusan. Walaupun sebenarnya sangat bertentangan benar dengan tabiatnya itu, ia harus menjalani lelaku ini. Sampai batas waktu yang ia sendiri tidak mengetahui. Terlalu sulit rasanya harus berperan menjadi orang lain. Sempat terlintas di benaknya, lebih baik menjadi diri sendiri daripada menjadi diri orang lain. Reksodikolo berjalan lagi. Pandangannya membentur onggokan putih di mana-mana. Hampir-hampir tubuhnya tidak kelihatan tertutup oleh onggokan itu. Dan ia terus berjalan mengitarinya. Mencari seorang temannya yang mempunyai nasib sama dengannya. Mereka sama-sama terlempar dan harus lelaku layaknya manusia. Hingga lelah mematri semangatnya belum juga ditemukan. Kalau menurutkan kata hati, Reksodikolo ingin pergi sekarang. Berlama-lama mencari, dan yang dicari tidak jelas di mana. Namun Reksodikolo berpikir lagi. Mereka hanya berdua terdampar di alam yang asing begini. Susah senang biarlah berdua, pikirnya. Lalu dengan lesu ia kembali lagi mencari dan mencari.

 BROJODIPURO begitulah sosok yang dicari itu bernama. Di tengah kekucelan pikirannya dan disertai kondisi yang loyo Reksodikolo menengadah. Tangannya diacungkan ke langit seperti berdoa. Dipejamkan matanya, perlahan berlutut di atas onggokan putih itu. Belum lagi ritual yang aneh itu dimulai, Reksodikolo terhenyak. Tiba-tiba kakinya menyentuh sesuatu yang juga mirip kaki. Segera ia membatalkan niatnya semula lalu menggali-gali. Telapak kaki, yah telapak kaki. Itulah pertama kali yang tampak dipenglihatannya. Sekonyong-konyong ia ingat. “Brojodipuro ?!” pekiknya tertahan. Dengan segera ia mengorek-ngorek. Tubuh yang lunglai tidak dihiraukan lagi. Kegembiraan terbersit di wajahnya. Ditariknya keras-keras kaki yang tampak sebagian itu. Bersama sisa-sisa tenaga ia terus menarik-narik tubuh itu. Jubah gelapnya berlepotan bercak putih di sana-sini. Namun ia tak perduli. Reksodikolo terlalu gembira hingga tak lagi ia memikirkan kekucelan pikirannya.Terdengar erangan lirih dari mulut Brojodipuro. Megap-megap kehabisan nafas lalu begitu terbebas dari kungkungan onggokan putih yang menimbunya itu ia langsung menengadahkan wajahnya ke langit. Tak menghiraukan lagi keberadaan Reksodikolo yang menyelamatkan selembar nyawanya.

“Terima kasih, Yang Mulia,“ katanya tersendat. Reksodikolo hanya memandang sejenak lalu turut bersimpuh di sebelah Brojodipuro. Kemudian dengan khusyuk memanjatkan seperti doa-doa kepada entah siapa.

***

Ada yang mati. Semakin hari bertambah lagi tanah-tanah digali. Semakin hari bertambah lagi tanah-tanah yang beralih fungsi. Dan semakin hari bertambah lagi jeritan yang menyayat. Rengek anak-anak bersendawa sesenggukan orang tuanya menjadi irama yang kerap kali memancing keharuan teramat sangat. Murung. Begitulah keadaan yang bisa dirasakan. Bukan teror bom, juga bukan karena sengketa. Tapi mereka banyak yang mati. Banyaknya yang terpaksa merelakan nyawanya melayang. Anak-anak kecil yang semestinya berlarian kian kemari menapaki matahari menggapai mimpi merajut serangkaian harapan, hari ini harus mati. Dan seharusnya itu tidak akan pernah terjadi, jika saja cinta tidak keburu pergi dari hati mereka. Namun itulah kenyataanya. Harus musnahkah generasi mereka ? Makhluk tua itu mengeluh. Nafasnya megap-megap kehabisan udara. Masker air yang dipakainya hanya mampu meredam emosi lahirnya sekejap. Gemuruh di hatinya terus saja menuntut tanggung jawabnya. Berhari-hari ia tidak beranjak dari tempatnya. Berhari-hari ia tidak mau menelan sedikitpun makanan. Berhari-hari ia memohon dan memohon. Di benaknya selalu ada segepok persoalan yang perlu dipecahkan segera. Dan bila tidak, maka banyak lagi yang mati.

“Tuan, hari ini tiga belas yang mati !”

“Kau urus saja. Kau bawa beberapa orang untuk membantumu. Dan beri pengertian kepada mereka supaya jangan terlalu bersedih ! Dan berikan keyakinan bahwa kita pasti berhasil merubah keadaan ini.” Makhluk tua itu berujar pilu. Tiga belas ! Tiga belas. Harus berapa lagi ? Kemarin dua puluh tiga, kemarinnya lagi tiga puluh dua. Dan lusa, berapa lagi ? Air mata yang sudah sekian waktu tidak pernah menetes, kini mengalir lagi seakan-akan menuntut dendam yang tak berujung pangkal. Ia begitu tidak mengerti. Pertanyaan-pertanyaan selalu menghimpit pembuluh darah dikepalanya. Dan jawaban atas pertanyaan itu hingga korban semakin banyak berjatuhan juga belum didapatkan. Padahal ia sudah berusaha sekuat tenaga. Terkadang di benaknya ada selintasan perasaan galau dan putus asa. Tanggung jawab yang diembannya demi kelangsungan rakyatnya menuntut dirinya agar tidak berpangku tangan. Namun iapun terus saja mengeluh.

***

Gemerecek suara kayu bakar menggema, memantul di dinding-dinding goa. Di atas tungku tempayan besar teronggok gumpalan-gumpalan putih. Di atas tungku yang lain tempayan besar berisi cairan. Air. Tidak jauh dari kedua tungku itu, merapat ke dinding goa berderet rapi botol-botol berbagai ukuran. Masing-masing penuh dengan air. Beberapa makhluk sibuk menuang memindah-mindah dari satu wadah ke wadah yang lain. Beberapa makhluk lagi sibuk memasukkan kayu-kayu bakar di bawah tungku. Dan beberapa makhluk juga kelihatan mendorong-dorong kereta beroda yang dipenuhi onggokan putih, kemudian mengumpulkanya di dekat tungku yang menyala. Botol-botol air yang semula berwarna jernih perlahan berubah menjadi keruh. Dan semakin keruh mengalirkan hawa aneh. Aneh mematikan. Sementara di tengah kesibukan makhluk-makhluk itu sesungging senyum yang menyerupai seringai mengiring sebuah perintah. Dan sebentar mengalirlah tawa bergema diseantero gua. Semakin lama tawa itu meledak semakin keruh pula warna air dalam botol-botol itu. Hawa kematian semakin sangit tercium. Muncratlah serapah berkepanjangan.

 ***

Hening. Panas menguap meledak-ledak. Di atas kepala-kepala berkerudung sejenis penutup transparan dan berair yang bertumpah ruah di dasar sebuah danau. Kering kerontang. Hanya terlihat bertitik-titik butiran air berkilauan memancarkan spektrum bianglala matahari. Tidak terdengar gumaman, tidak ada juga desah keluhan yang keluar dari mulut-mulut berair itu. Panas menyengat menghanguskan kulit-kulit mereka yang sudah membiru, mereka terbaring berserakan mengerikan. Tua-muda, anak-anak kecil, perempuan-lelaki jompo dan semua ada di situ. Mati. Reksodikolo dan Brojodipuro melongo, kaget. Wajah-wajah mereka berubah kelam membelam. Pucat pias. Pikiran-pikiran yang tidak jelas bergejolak dalam otak keduanya. Kesal, sesal semua berbaur. Habislah sudah waktu untuk memperbaiki diri yang diberikan pada mereka, sebelum sempat mereka menuntaskan lelaku ini. Sebelum sempat mereka merubah ketidakberesan ini. Semuanya adalah kelalaian mereka. Waktu yang diberikan mereka sia-siakan. Inilah akibatnya. Di tengah kekagetan itu, tiba-tiba tubuh mereka tersedot ke bumi. Perlahan menghilang ditingkahi jerit memilukan yang memantul di dinding-dinding danau. Sunyi.

Jen Kelana

Jen Kelana adalah nama pena dari Muhammad Jainuri, S.Pd., M.Pd, Lahir di Nganjuk (Jatim), besar di Sumut dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilimiah. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan. Aktifitas sebagai kuli di STKIP YPM Bangko.

Add Comment