Kumulai lagi membaca rangkaian riwayat purbawi yang tersekat di kepala Malam gelisah basah mengurai lafadz basmalah menjadi berkeping-keping air mata Syahdu khusuk tengadah memenggal-menggal doa menjadi bulir-bulir surga

Sajak: Jen Kelana   Pasar pagi ini menyala raut-raut penuh amarah menelan perbincangan menghambur-hamburkan kata sekenanya sumpah serapah bersimaharajalela entah untuk siapa  

:Annas Maamun*   Membaca riwayatmu, Atuk seperti hari cerah yang tiba-tiba kelam meninggalkan catatan buram silsilah yang kau pahatkan pada kening-kening sesanak pinak

Sajak-sajak: Jen Kelana Siapakah gerangan, Wahai! akulah belati yang selalu memberi janji pada kedalaman nurani meski tak selalu sembunyi mengisi setiap depa lingkaran berduri hingga lahirlah silsilah atas gairah suap,…

Sajak-sajak Jen Kelana   Memotret senja merah nusantara terekam catatan menjelaga tentang rerimbun yang tiba-tiba meranggas serupa mengemas cemas tiba-tiba njelma sabana luas meluruhkan manikam pualam menjadi buram kelam

Sajak-sajak Jen Kelana   Memandang laut menggiring ruang kekanakku ke tepian remah-remah kenang masa lalu dari segulung sejarah palapa tentang nusantara   Aku senantiasa menjadi saksi tentang negeri bahari yang…

Sajak-sajak Jen Kelana   Hari-hari ini kita seperti terbiasa mengunyah puisi memprasasti suap, gratifikasi dan negosiasi lalu menelan sekenannya dan kita juga buru-buru memuntahkan  

Sajak-sajaak: Jen Kelana   Perjalanan ini terasa teramat panjang padahal aku hanya ingin mengulang kenang menelusuri noktah yang tertatah pada dinding-dinding serupa markah mengisahkan hikayat riwayat dalam gairah aksara menggeliat…